Search for Green

Tuesday, December 21, 2010

Nyamuk Transgenik Tingkatkan Risiko Kesehatan di Malaysia



Uji lapang nyamuk rekayasa genetik (transgenik) di Pahang dan Melaka, Malaysia tidak akan menimbulkan solusi apa pun dalam menghilangkan demam berdarah akibat serangan nyamuk Aedes aegypti di Malaysia, sebaliknya akan meningkatkan risiko kesehatan di  Malaysia. Demikian menurut Dr Lim Thuang Seng, ahli imunologi melalui media online Malaysia (19/11).

Dr Lim meminta Pemerintah Malaysia untuk serius mempertimbangkan kembali niat melepaskan nyamuk transgenik ini. Meskipun ada klaim resmi bahwa penelitian pada pelepasan nyamuk transgenik di Pulau Cayman untuk menghilangkan Aedes aegypti sukses, namun Dr Lim  meragukan berapa lama pulau itu akan terbebas dari Aedes aegypti tanpa pelepasan nyamuk laki-laki transgenik secara berkesinambungan, sementara perusahaan yang mengembangkan nyamuk transgenik mengklaim nyamuk jantan transgenik akan mati dalam beberapa hari.

Dr Lim juga menggambarkan pengalaman Kepulauan Cayman dalam keadaan perang melawan demam berdarah transmisi dari nyamuk Aedes aegypti. Kepulauan Cayman, sebuah wilayah luar Inggris di Karibia, mulai mengeliminasi nyamuk yang kembali pada awal tahun 1950 dengan menggunakan metode DDT 5 persen yang masih disetujui. Hasilnya sukses dan survei menunjukkan Grand Cayman Islands bebas dari Aedes aegypti.

Pada tahun 1965 dengan tujuan mempromosikan pariwisata, Cayman melakukan kampanye lain untuk mengendalikan gangguan nyamuk di Grand Cayman Islands (Kepulauan Cayman) termasuk dengan transmisi darah nyamuk Aedes aegypti.
Pada tahun 1966, Unit Pengendalian dan Penelitian Nyamuk (Mosquito Research and Control Unit - MRCU) mendirikan jaringan ovipots dan perangkap berumpan CO2 di Grand Cayman Islands untuk mendeteksi dan memantau kehadiran Aedes aegypti. Hasilnya, nyamuk Aedes aegypti tidak terdeteksi tapi survei menemukan adanya nyamuk di dua pulau terdekat lainnya.

Setelah larangan penggunaan DDT, pemerintah Kepulauan Cayman menggunakan strategi 3-cabang dalam mengendalikan populasi nyamuk di pulau yang meliputi pencegahan masuknya melalui pembersihan serangga pada kapal dan pesawat yang memasuki pulau itu, pengawasan ovipot, dan pengendalian kimia.
Keberhasilan dicapai meskipun reintroduksi nyamuk terjadi pada tahun 1973, 1980 dan awal 1990-an. Namun, nyamuk itu muncul kembali. Hari ini, Kepulauan Cayman terus menghadapi ancaman demam berdarah transmisi nyamuk Aedes aegypti dengan bukti Aedes albopictus menjadi muncul di beberapa kota di mana Aedes aegypti telah dieliminasi.

Dr Lim mengatakan, dari pengalaman Kepulauan Cayman dalam memerangi nyamuk Aedes, ia percaya metode tradisional pengendalian nyamuk yang digunakan oleh Menteri Kesehatan saat ini cukup efektif jika dipraktikkan dalam kombinasi dan dilaksanakan terus menerus.
Uji Lapang Ditentang

Menurut informasi Third World Network (TWN) pada 22 November 2010, Malaysia akan melakukan uji lapang nyamuk Aedes aegypti rekayasa genetik (transgenik) di sebuah kota kecil di negara bagian Pahang yang berjarak tidak jauh dari Kuala Lumpur. Persiapan telah dilakukan untuk melepaskan nyamuk transgenik. Pertama, di daerah tidak berpenghuni dan kemudian di daerah berpenghuni. Usulan lain untuk lahan uji lapangan adalah di negara bagian Melaka.

Uji lapangan ini tetap akan berlangsung meski banyak pihak seperti para ilmuwan, organisasi masyarakat sipil, penduduk lokal dan individu telah menyatakan keberatan mereka sehubungan dengan kesehatan dan dampak lingkungan dari organisme transgenik yang belum teruji ini. Selain itu, kurangnya transparansi mengenai cara dan proses pengujian lapang dilakukan juga merupakan isu yang memprihatinkan. Pada tanggal yang tidak jelas, atau apakah penduduk dari daerah yang diusulkan telah memberikan persetujuan sesuai dengan syarat dan kondisi untuk pelepasan.
Berdasarkan percobaan lapangan, nyamuk Aedes aegypti jantan transgenik (OX513A) akan dilepas dan dipelajari. Jika percobaan berhasil, nyamuk transgenik dapat digunakan sebagai bagian dari program untuk mengurangi demam berdarah di Malaysia, penyakit yang saat ini merajalela di negara ini. Nyamuk transgenik secara genetik direkayasa untuk memasukkan dua sifat baru: fluoresensi dan lethality bersyarat. Sifat fluoresensi bertindak sebagai penanda bagi nyamuk transgenik. Ketika nyamuk laki-laki transgenik kawin dengan nyamuk betina di alam bebas, sifat lethality bersyarat akan diteruskan kepada keturunannya dan larva nyamuk yang dihasilkan akan mati, hal ini terjadi bila tidak ada antibiotik tetrasiklin.

Nyamuk transgenik merupakan produk Oxitec, sebuah perusahaan bioteknologi berbasis di Inggris. Perusahaan akan bekerja sama dengan Institut Riset Medis Malaysia yang aplikasi untuk melakukan percobaan lapangan telah disetujui oleh Dewan Keamanan Hayati Nasional. Oxitec telah melakukan studi percobaan pertama dengan menggunakan strain OX513A Aedes aegypti yang sama di Kepulauan Cayman. Namun, para ahli telah meragukan keberlanjutan inisiatif ini dan menyerukan untuk mengkaji uji coba Cayman secara penuh dan jangka panjang, terutama untuk mengidentifikasi efek yang tidak diinginkan, sebelum memperhitungkan pelepasan di tempat lain di dunia.

Saat ini Malaysia bersiap untuk memulai usaha yang sama dengan Pulau Cayman, meski banyak pertanyaan lain tentang nyamuk transgenik tetap tidak terjawab. Pertanyaan ini meliputi: Apakah nyamuk jantan transgenik benar-benar mampu untuk kawin dengan nyamuk betina liar di luar lingkungan yang terkendali? Bagaimana yakin bahwa nyamuk transgenik tidak akan menyebabkan penyakit baru di masa depan atau memperoleh kemampuan untuk menularkan penyakit lain? Siapa yang akan bertanggung jawab dalam hal dampak tak diinginkan terjadi sebagai hasil dari percobaan?

Mengingat ketidakpastian dan keprihatinan berkaitan dengan teknologi, kesehatan, lingkungan teknologi, dan sebagainya, banyak pihak meminta untuk memikirkan kembali proyek ini dan menyarankan metode-metode pengendalian dengue lain yang kurang berisiko bisa dipertimbangkan dan ditingkatkan.
Sumber: http://www.twnside.org.sg/

No comments:

Post a Comment