Search for Green

Saturday, November 6, 2010

Badai Matahari Kuat pada 2012 akan Menyerang

Badai Matahari Kuat pada 2012 akan Menyerang



Menurut laporan website Inggris “New Scientist”, maksud dari badai matahari atau solar storm adalah siklus kegiatan peledakan dahsyat dari masa puncak kegiatan bintik matahari (sunspot), biasanya setiap 11 tahun akan memasuki periode aktivitas badai matahari. Ilmuwan Amerika baru-baru ini memperingatkan bahwa pada tahun 2012 bumi akan mengalami badai matahari dahsyat (Solar Blast), daya rusakanya akan jauh lebih besar dari badai angin “Katrina”, dan hampir semua manusia di bumi tidak akan dapat melepaskan diri dari dampak bencananya.




Badai Matahari Kuat pada 2012 akan Menyerang

Pada 22 September 2012 tengah malam, langit New York, Manhattan Amerika Serikat akan tertutupi oleh seberkas layar cahaya yang warna-warni.Di wilayah selatan New York ini, sangat sedikit orang yang dapat melihat fenomena aurora ini. Namun, perasaan menikmati indahnya pemandangan alam ini tidak akan berlangsung lama. Setelah beberapa detik, semua bola lampu listrik di wilayah tersebut mulai gelap dan berkedip tak menentu, kemudian sinar cahayanya dalam seketika tiba-tiba bertambah terang, dan cahaya bola lampu menjadi luar biasa terang. Selanjutnya, semua lampu mati. 90 detik kemudian, seluruh bagian Timur Amerika Serikat akan mengalami pemadaman listrik. Setahun kemudian, jutaan orang Amerika mulai mati, infrastruktur negara akan menjadi timbunan puing. Bank Dunia akan mengumumkan Amerika berubah menjadi negara berkembang. Pada saat yang sama, Eropa, China dan Jepang dan daerah lain atau negara juga akan sama seperti Amerika Serikat, berjuang dalam bencana sekali ini. bencana ini datang dari badai matahari atau solar storm yang dahsyat, terjadi pada permukaan matahari yang berjarak 150 juta km dari bumi.




Alat Deteksi Amerika Berhasil Mengambil Foto Badai Matahari

Mungkin cerita di atas kedengarannya mustahil, dalam keadaan normal matahari tidak akan bisa menyebabkan bencana besar seperti itu pada bumi. Namun, laporan khusus yang dikeluarkan oleh National Academy of Sciences, Amerika Serikat pada bulan Januari 2009 menyatakan bahwa bencana seperti ini sangat mungkin bisa terjadi. Studi tersebut disponsori oleh NASA. Dalam beberapa dekade, dalam perkembangan masyarakat manusia, peradaban Barat telah menanamkan bibit-bibit untuk kehancuran mereka sendiri. Cara hidup modern secara berlebihan yang sangat tergantung pada ilmu pengetahuan dan teknologi, secara tidak sengaja membuat kita lebih banyak terperangkap dalam suatu kondisi yang super berbahaya. Plasma balls yang dipancarkan dalam letusan permukaan matahari mungkin bisa menghancurkan jaringan listrik kita, sehingga mengakibatkan bencana dahsyat. Daniel Becker dari University of Colorado seorang ahli cuaca angkasa adalah pencetus laporan khusus dari Academy of Sciences Amerika Serikat, “Sekarang ini kita semakin dekat dengan kemungkinan bencana ini. Jika manusia tidak dapat mempersiapkan diri deng-an matang terhadap bencana badai matahari yang akan menimpa ini. Badai matahari ini mungkin akan memutuskan pasokan listrik umat manusia, sinyal ponsel, bahkan termasuk sistem pasokan air.”
Namun demikian, ada beberapa ahli yang menyatakan pandangan yang berbeda, mereka mempertimbangkan dampak badai matahari terutama terkonsentrasi di luar ruang angkasa, dan karena efek rintangan medan magnetik bumi dan atmosfir, pengaruh gangguannya tidak akan terlalu nyata terhadap kehidupan di bumi. Para ahli mengatakan, ketika aktivitas badai matahari aktif, akan terus menerus terjadi pembakaran dan peledakan pada sunspot, pada saat sejumlah besar sinar ultraviolet dilepaskan akan menyebabkan densitas lapisan ionosfir di atas angkasa bumi meningkat mendadak, menyerap habis energi gelombang pendek, sehingga gelombang pendek sinyal radio terganggu. Tetapi ponsel yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk transmisi sinyal radio tidak melalui lapisan ionosfir, sehingga pada umumnya dampak badai matahari terhadap komunikasi di permukaan bumi tidak akan signifikan. Secara teori, pada umumnya intensitas badai matahari tidak akan bisa menerobos perlindungan atmosfer dan medan magnetik bumi, hingga secara fatal mengancam spesies yang berada di bumi. Tetapi untuk badai matahari tahun 2012 para ahli khawatir mungkin menjadi pengecualian.

Mungkin Membawa Dampak Bencana Besar pada Bumi

Ilmuwan Amerika Serikat memperingatkan bahwa, pada 2012 badai matahari yang kuat di bumi akan membawa malapetaka besar pada manusia, yang akan mempengaruhi setiap aspek pada masyarakat modern sekarang. Para ahli yang mengeluarkan peringatan meng-atakan, dampak badai matahari pada bumi kemungkinan adalah “efek domino”. Coba pikirkan, bila jaringan listrik menjadi rapuh dan tidak stabil, hal-hal yang berhubungan dengan bisnis pasokan listrik juga akan menjadi korban: peralatan refrigeration berhenti, makanan dan obat-obatan yang tersimpan dalam ruang berpendingin dalam jumlah besar akan kehi-langan kondisi penyimpanan dan rusak; pompa tiba-tiba berhenti berfungsi, air minum pada masyarakat akan menjadi masalah. Selain itu, karena gangguan pada sinyal satelit, sistem posisi GPS akan menjadi sampah. Sebenarnya pada awal 1859 pernah terjadi kasus serupa, peledakan badai matahari saat itu bahkan me-ngakibatkan jaringan telegram terbakar rusak. Tentu saja sekarang ini di bumi sudah dipenuhi oleh fasilitas kabel dan nirkabel, tetapi fasilitas ini sulit menahan ujian badai matahari.
Ketika badai matahari kuat menyerang, umat manusia di bumi akan menghadapi dua masalah besar. Pertama, adalah tentang masalah jaringan listrik modern sekarang. Jaringan listrik modern sekarang pada umumnya menggunakan tegangan tinggi untuk mencakup daerah lebih luas, ini akan memungkinkan operasi jaringan listrik lebih efisien, Anda bisa mengurangi kerugian selama transmisi listrik, juga kerugian listrik karena produksi yang berlebihan. Namun, secara bersama ia juga menjadi lebih rentan terhadap serangan cuaca ruang angkasa. transmisi jaringan akan menjadi sangat rentan dan tidak stabil, atau bahkan mungkin menyebabkan terhenti secara total. dan ini hanya merupakan efek domino yang pertama, selanjutnya mungkin juga akan menyebabkan “lalu lintas lumpuh, komunikasi terputus, industri keuangan runtuh dan fasilitas umum kacau; pompa berhenti menyebabkan pasokan air minum terputus, kurangnya fasilitas pendingin, makanan dan obat-obatan sulit disimpan secara efektif. Para ilmuwan telah memperkirakan bila ada intensitas badai matahari kuat mungkin dapat menyebabkan kerugian sosial dan ekonomi manusia, hanya pada tahun pertama saja kerugiannya mencapai 1-2 triliun dollar AS, sementara pemulihan dan rekonstruksinya diperlukan setidaknya 4-10 tahun
Isu yang kedua adalah tentang masalah sistem jaringan listrik yang saling ketergantungan yang dukungan kehidupan modern kita, seperti masalah air dan penanganan limbah, masalah infrastruktur logistik supermarket, masalah pengendalian gardu listrik, pasar keuangan dan lainnya yang tergantung pada listrik. Jika dua masalah digabung jadi satu, kita dapat dengan jelas melihat bahwa peristiwa kemungkinan muncul kembalinya badai matahari Carrington sangat mungkin akan menyebabkan bencana besar yang langka. Adviser laporan khusus dari National Academy of Sciences Amerika Serikat dan analis daya listrik industri John Kappenman menganggap “Bencana seperti ini dibandingkan dengan bencana yang biasa kita bayangkan secara total berlawanan. biasanya wilayah kurang berkembang rawan serangan bencana, namun dalam bencana ini, wilayah yang semakin berkembang lebih rentan terhadap serangan bencana.”

Manusia Belum Mempersiapkan Diri

Menghadapi kemungkinan bencana serius yang akan me-nimpa, Amerika Serikat dan seluruh umat manusia tidak segera merespon untuk mempersiapkan pekerjaan secara baik dalam menghadapi putaran badai matahari berikutnya. Becker me-ngatakan bahwa karena kemungkinan terjadinya skala besar badai matahari sangat kecil, “Seluruh masyarakat bahkan tidak menanggapinya, namun hanya memperhatikan masalah di hadapan mata”. Terhadap cuaca di bumi, para ahli cuaca dapat melacak badai yang akan menimpa selama beberapa hari ke depan, dan mengeluarkan peringatan yang sesuai kepada penduduk setempat, namun badai matahari atau cuaca ruang angkasa benar-benar berbeda. Backer mengatakan bahwa sekarang ini kita masih tidak dapat memprediksi secara akurat waktu dan kekuatan badai matahari, yang dapat diprediksi oleh saya dan rekan saya hanya jika sebuah badai matahari besar menyerang, kami secara mutlak tidak mampu menanganinya.”
Ini mirip dengan peringatan dini bencana angin topan dan manusia di bumi, dewasa ini umat manusia terutama tergantung pada prediksi dari siklus sunspot untuk memantau intensitas badai matahari serta dampaknya pada bumi. Yang dimaksud dengan sunspot adalah proses peningkatan dan pengurangan yang berarti dalam jumlah sunspot setiap 11 tahun. Siklus dihitung mulai dari aktivitas terendah sunspot pada matahari. Dalam masa aktif sunspot akan meningkat, badai matahari yang terjadi akan lebih banyak. Ketika badai matahari terjadi, partikel kecepatan tinggi serta aliran ion yang terbentuk oleh partikel bermuatan listrik yang dipancarkan secara besar-besaran oleh matahari akan berpengaruh terhadap lapisan medan magnit bumi, ionosfir serta kondisi atmosfir netral. Dalam masalah dampak bahaya badai matahari, lebih dari satu abad, orang-orang terus memantau kegiatan sunspot.
Berdasarkan fenomena yang terjadi di atas permukaan matahari serta data bintik matahari siklus yang terjadi sebelumnya, para ilmuwan dari National Center for Atmospheric Research, NCAR, Amerika Serikat, berhasil mengembangkan sebuah model baru ilmu dinamika solar. Dengan model baru, para astronom dapat memberikan peringatan secara dini dari aktivitas sunspot matahari. Mereka berharap bahwa peringatan dini dapat membantu perusahaan-perusahaan listrik, para pengendali satelit dan aspek lainnya dalam beberapa hari atau bahkan tahun-tahun sebelumnya agar bisa bersiap-siap menghadapai kegiatan sunspot matahari. Menurut informasi, ketepatan model baru ini dapat mencapai akurasi 98%. Richard Enke dari National Science Foundation, Departemen Atmospheric Research Amerika Serikat mengatakan bahwa jika dapat secara dini memprediksi aktivitas badai matahari, orang-orang akan dapat dengan baik menanggulangi gangguan seperti komunikasi, kegagalan satelit, pemadaman listrik, serta ancaman terhadap astronot dan hal-hal lain.

Friday, October 29, 2010

Duka Indonesia Mendunia di Twitter


Pesohor dunia berduka untuk bencana yang susul menyusul di Indonesia. 
Dukacita dari Obama.

Pray for Indonesia (Twitter)

VIVAnews - Tanpa ada yang tahu siapa yang mempelopori, istilah 'Pray for Indonesia' mendunia dalam sekejab. Dengan menampilkan pita hitam dan lambang Burung Garuda, simbol 'Pray for Indonesia' ini,  memikat iba seluruh jagat ke negeri yang sedang dirundung petaka ini.
Dari banjir bandang di Wasior, lindu dan air laut yang menggulung Mentawai, hingga awan mendidih 600 derajat celsius yang menyiram kawasan sekitar Merapi di Yogyakarta. Daftar petaka ini mengharubiru susul menyusul dalam sebulan. Wasior 4 Oktober, Mentawai 25 Oktober dan Merapi 26 Oktober.
Sejumlah petinggi dunia, juga pesohor di panggung hiburan menghaturkan belasungkawa yang mendalam. “Michelle dan saya sangat berduka atas korban tewas, luka dan kerusakan yang terjadi akibat gempa bumi dan tsunami di Sumatra Barat,” ujar  Presiden Amerika Serikat Barrack Obama di Gedung Putih pada Selasa, 26 Oktober 2010, seperti dilansir laman Daily Telegraph.

Presiden yang pada masa kanak-kanak pernah menetap di Jakarta ini mengungkapkan, “Sebagai sahabat Indonesia, Amerika Serikat siap membantu dengan berbagai cara.”
Ungkapan berduka cita juga membanjiri situs jejaring sosial seperti Twitter. Sejak Merapi meletus, sore kemarin, sejumlah topik mengenai Indonesia masuk sepuluh besar trending topic.
Ada #prayforindonesia, "bless Indonesia" dan "mentawai." Bahkan, #prayforindonesia sempat menempati posisi teratas trending topic di  jejaring Twitter. Sejumlah artis dunia memantulkan topik ke jutaan pengikut mereka di dunia maya itu.
Aktor Hollywood, Tom Cruise, angkat bicara mengenai Indonesia dalam akun Twitternya. Cruise sepertinya penasaran dengan tiga trending topic  yang bertema Indonesia itu. "Our hearts go out to the people of Merapi & Jakarta Indonesia," kata Cruise dalam akun Twitter-nya, Rabu 27 Oktober 2010.
Bintang 'Mission Impossible' itu lalu melampirkan sebuah berita yang menceritakan dua bencana alam di Indonesia. "Jika Anda tahu dari organisasi bantuan terbaik untuk membantu Indonesia terluka & pengungsi, beritahukan kami agar kami dapat lulus bersama," tweet berikutnya dari Cruise dalam Bahasa Indonesia yang terkesan diterjemahkan melalui mesin.

Tak hanya Cruise, rasa penasaran pada trending topic ini juga menghinggapi sejumlah selebriti dunia lainnya. Mereka mengungkapkan rasa prihatin atas bencana yang menimpa Indonesia.

Kim Kardashian, sosialita dan pebisnis cantik ini dalam Twitter-nya menuliskan, "My heart goes out to all those affected by the quake and the volcano eruption in Indonesia #lifeisprecious #prayforindonesia."

Justin Bieber, penyanyi remaja  yang sedang di puncak kemasyuran itu juga tak mau ketinggalan. "Just found out about the earthquake in Indonesia. everyone please pray for the people there. #prayforindonesia," tulis Bieber dalam akunnya.

Rasa simpati dan doa juga datang dari pasangan hidup Nicole Richie, Joel Madden. Ia berharap masyarakat Indonesia akan kuat menghadapi masalah ini. "Indonesia I love you be strong," begitulah bunyi dari tweet Joel Madden.

Selain itu, Joe Jonas, personel Jonas Brother, juga ambil bagian. Ia menulis, "#prayforindonesia so sad."
Dan, Prince Jackson, putra Michael Jackson, ikut menuliskan, "My heart broke for that notice! So just let's pray for our brothers They need our Help and Love and they Need of GOD! so #prayforindonesia."

Selain kerugian harta benda, bencana yang sambung menyambung itu sudah menamatkan banyak raga. Wasior 101 orang tewas. Hingga Rabu sore ini, diperkirakan 200 orang tewas akibat petaka 15 menit di Mentawai.
Jumlah korban di Mentawai itu, "Kemungkinan terus bertambah, sekarang masih ditumpuk untuk diidentifikasi," kata Joskamatir, Ketua Badan Penanggulangan Bencana Pagai Utara Selatan, Kepulauan Mentawai, melalui telepon kepada VIVAnews.com. Sementara korban hilang, menurut Joskamatir, lebih dari 400 orang.
Sementara letusan Merapi sudah menelan korban 29 orang. Jumlah ini pun masih sementara, sebab korban lain terus dicari di daerah siraman debu vulkanik itu. Proses pencarian korban serba hati-hati, sebab letusan susulan sangat mungkin terjadi.



• VIVAnews dengan perubahan GGFW

Thursday, October 28, 2010

Gempa Mentawai dan Merapi Meletus Terkait?

Pakar geodesi dari ITB angkat bicara mengenai dua bencana yang terjadi hampir bersamaan.

Erupsi Gunung Merapi Yogyakarta pada Selasa 26 Oktober 2010

 
VIVAnews - Senin 25 Oktober 2010, pukul 21.42 WIB, sebuah gempa berkekuatan 7,2 skala Richter terjadi di barat daya Pulau Pagai, Mentawai, Sumatera Barat. Sebuah tsunami pun lahir, menghantam kawasan pantai barat gugusan kepulauan di kabupaten terluas di Sumatera Barat itu.

Kurang 24 jam, pada Selasa 26 Oktober 2010 pukul 17.02 WIB, Gunung Merapi mengeluarkan erupsi pertama setelah dari sebulan sebelumnya dinyatakan bahaya. Erupsi-erupsi menghasilkan awan panas yang kemudian diketahui menewaskan 29 orang termasuk Juru Kunci Merapi, Mbah Maridjan.

Apakah dua peristiwa alam ini terkait satu sama lain?

Pakar Geodesi dari Institut Teknologi Bandung, Hasanuddin Z Abidin, menyatakan kedua peristiwa ini berjauhan lokasinya. Menurutnya, terlalu spekulatif apabila menyimpulkan kedua bencana itu ada keterkaitan satu sama lain.

"Terlalu jauh. Saya rasa nggak berhubunganlah," kata Hassanudin dalam perbincangan telepon dengan VIVAnews, Rabu 27 Oktober 2010.

"Mentawai kita ketahui memang dari dulu sering terjadi gempa, sementara aktifitas Merapi itu pun memang ada siklusnya. Lagipula gunung-gunung yang lebih dekat dengan Mentawai seperti misalnya yang ada di Padang saja, itu tidak menunjukkan reaksi apa-apa terkait gempa Mentawai. Jadi menurut saya, terlalu spekulatif kalau menghubungkannya. Mungkin hanya kebetulan saja waktunya sangat berdekatan," kata Hasanuddin.

Ketika ditanya apakah akan ada gempa yang lebih besar lagi di Mentawai setelah gempa dahsyat yang terjadi 25-26 Oktober kemarin, Hasanuddin menegaskan hal itu bisa saja terjadi. "Itu biasa, suatu tempat kalau sudah pernah terjadi gempa pasti nanti akan terjadi lagi gempa di tempat itu. Cuma saja kapan waktunya ini yang susah diprediksi," katanya.

Variasi waktu gempa susulan itu berbeda-beda, tambah Hasanuddin. Bisa dalam hitungan jam, hari, bulan, bahkan ada yang tahunan.

"Biasanya kalau gempa yang besar, itu akan butuh waktu lama untuk terjadi gempa lagi. Mentawai kan kemarin kekuatannya 7,2 skala richter, termasuk besar, nah ini akan akan butuh waktu lama untuk terjadi gempa besar lagi. Makanya menurut saya tidak dalam waktu dekat ini akan terjadi gempa besar lagi, karena dia mesti menyimpan energi dalam waktu lama," kata Hasanuddin.
Pesisir Pantai Pagai, Kepulauan Mentawai, yang dilanda tsunami
Kawasan terkena tsunami di Mentawai

Penekanan Mitigasi

Hasanuddin menyatakan, yang paling penting dalam penanganan bencana ini adalah mitigasi. "Pemerintah seharusnya lebih care (peduli) dengan riset-riset kebencanaan yang di hulu," katanya.

Riset-riset hulu yang dimaksud itu adalah yang mengenai peringatan dini (early warning), studi potensi bencana, atau identifikasi bencana. "Kita sangat lemah dalam soal early warning. Menurut saya, pemerintah sangat kurang perhatian dalam mitigasi bencana. Saya sering gregetan," katanya.

Mestinya kalau pemerintah serius menaruh perhatian dalam mitigasi bencana, studi atau riset kebencanaan yang ada bisa bermanfaat untuk memperkirakan kapan terjadi bencana dan mengantisipasinya sehingga sedapat mungkin tidak ada kerugian dan korban yang besar.

Hasanuddin meminta pemerintah agar memasukkan juga studi kebencanaan sebagai prioritas perhatian. "Memang studi kebencanaan tidak menghasilkan uang, tetapi itu kan penting, karena bencana ini adalah bahaya laten dan dampaknya juga costly (biaya tinggi). Indonesia ini masuk daerah yang sering terjadi gempa. Jangan selalu repot bertindak setelah kejadian," katanya. (hs)
• VIVAnews edit GGFW

Friday, October 22, 2010

Salju Turun di Arab Pertanda Hari Kiamat Sudah Dekat...???

Sebagimana diberitakan oleh TV Arab Saudi dan diberitakan kembali oleh Nuansa Pagi RCTI (Selasa, 15 Januari 2002), bahwa pada Hari Minggu, tanggal 13 January 2002,

Arab Saudi yang merupakan daerah gurun pasir yang sangat panas dimana matahari bersinar sepanjang hari, telah terjadi suatu fenomena alam yang langka. yaitu dengan turunnya salju dengan lebatnya.

Tepatnya di darah Tabuk 1500 km dari Riyad (Ibukota Arab Saudi) ketebalan salju mencapai 20 cm, dan di Yordania suhu mencapi titik beku (0 derajat celcius). Ternyata tahun-tahun terakhir ini di Jazirah Arab yang notabenenya gurus pasir panas, turunnya salju ini telah sering terjadi, tetapi hal ini ditutup-tutupi atau tidak dipublikasikan secara luas.

Jauh-jauh hari sebelum terjadinya turun salju di Arab Saudi dewasa ini sebagaimana diberitakan di atas, para ilmuan dari King Abdul Aziz University (Arab Saudi) bekerja sama dengan para ilmuan barat dan manca negara telah melakukan penelitian ilmiah mengenai fenomena-fenomena alam yang diterangkan dalam Al-Quran dan Al-Hadist. Salah satunya mengkaji mengenai Hadist Rasulallah SAW di atas.

Kajian ini antara lain dilakukan bersama dengan seorang orientalis, Profesor Alfred Kroner, seorang ahli ilmu bumi (geologi) terkemuka dunia, dari Department Ilmu Bumi Institut Geosciences, Johannes Gutenburg University , Mainz , Germany . Ketika ditanyakan kepada Prof. Korner oleh para Ilmuan King Abdul Aziz sebagaimana diterangkan dalam Islam dan Sains hal. 25-26 :
* Bagaimana Nabi Muhammad SAW bisa mengetahui bahwa dahulu kala jazirah/dataran Arab merupakan padang rumput yang subur dan dipenuhi oleh
sungai-sungai yang mengalir?….. Karena Prof Korner tidak beriman kepada Al-Quran dan Al-Hadist, ia menjawab dengan tuduhan bahwa bisa saja Nabi Muhammad SAW mengetahui hal tersebut dari kitab-kitab lama seperti Jabur,Tauret dan Injil yang sering menceritakan bahwa dulu di dataran Arab merupakan padang rumput yang subur dengan banyaknya cerita tentang para pengembala ternak, cerita-cerita tentang kebun anggur dan cerita-cerita tentang pemilik perkebunan yang subur yang sering diceritakan dalam kitab-kitab tersebut. Atau bisa jadi Nabi Muhammad SAW menconteknya dari ilmuan-ilmuan dari Roma pada saat itu.

* Menanggapi tuduhan Prof. Korner tersebut, Ilmuan King Abdul Aziz, menjawab OK, anda bisa saja menuduh seperti itu, tapi apakah keadaan dataran Arab yang subur dahulu kala itu bisa dibuktikan secara ilmiah pada masa Nabi Muhammad SAW hidup 1400 tahun yang lalu?…. Prof. Korner menjawab pada masa itu belum dapat dibuktikan, karena sains dan teknologinya tidak memungkinkan.

* Apakah hal itu benar-benar terjadi dan dapat dibuktikan secara ilmiah dengan teknologi canggih dewasa ini?… Prof. Korner menjawab ya!.. dahulu dataran Arab dipenuhi dengan kebun-kebun yang subur dan sunga-sungai yang mengalir, dan secara ilmiah keadaan tersebut dapat dibuktikan. Prof Korner menjelaskan bahwa dahulu selama Era Salju (Snow Age), kemudian Kutub Utara icebergs perlahan-lahan bergerak ke arah selatan sehingga relatif berdekatan dengan Semenanjung Arab, pada saat itu iklim dataran Arab berubah dan menjadi salah satu daerah yang paling subur dan hijau di muka bumi. Ini merupakan fakta sains yang tidak bisa dibantah.

* Pertanyaan selanjutnya, bagaimana Nabi Muhammad SAW dapat mengetahui juga bahwa sekali lagi dataran Arab itu akan menjadi daerah yang subur dipenuhi kebun-kebun dan sungai-sungai sebagai tanda datangnya hari kiamat, padahal pada masa itu 1400 tahun yang lalu teknologinya belum memungkinkan untuk mengetahui hal tersebut dan informasi tersebut satupun tidak diterangkan baik dalam kitab-kitab terdahulu maupun dalam penelitian ilmuan-ilmuan Roma?……. Prof. Korner menjawab dengn malu-malu, bahwa Nabi Muhammad SAW dapat mengetahui informasi itu pasti dari sesuatu yang mengetahui betul mengenai alam ini (cuma Prof. Korner mengelak untuk mengatakan secara terus terang bahwa sebenarnya informasi itu datangnya dari Tuhan, Allah SWT yang paling tahu tentang alam ini, karena Dia-lah yang telah menciptakan dan mengaturnya) .

* Dan apakah informasi yang dikabarkan Nabi Muhammad SAW 1400 yang lalu bahwa sekali lagi dataran Arab itu akan menjadi daerah yang subur dipenuhi kebun-kebun dan sungai-sungai benar-benar akan terjadi?….. Prof Korner menjawab dengan tegas ya!… karena sebenarnya proses itu sekarang sedang terjadi. Era Salju Baru (New Snow Age) sebenarnya telah dimulai, sekali lagi sekarang salju di kutub Utara sedang merangkak/bergeser perlahan-lahan ke arah selatan mendekati Semenanjung Arab. Hal ini dapat dibuktikan dengan fakta dan sains, dimana tanda-tanda itu nampak dengan jelas di dalam badai salju yang menghujani bagian utara Eropa dan Amerika setiap musim salju tiba.Dan sekarang terbukti bahwa salju telah beberapa kali turun di dataran Arab sebagaimana diberitakan TV Arab Saudi dan RCTI di atas.

Bagi umat Islam yang telah memahami ajaran Islam, turunnya salju di arab saudi ini bukan merupakan hal yang aneh, karena hal ini telah diterangkan oleh Nabi Muhammad SAW 1400 tahun yang lalu. Ketika para sahabat menanyakan kepada Rasulallah SAW mengenai kapan datangnya hari kiamat.Rasulallah SAW menjawab, bahwa pengetahuan mengenai datangnya hari kiamat hanya ada pada sisi Allah SWT.

Tetapi Allah SWT telah memberitahukan tanda-tandanya kepada Rasulallah SAW, antara lain sebagaimana diterangkan dalam salah satu Hadist Rasulallh SAW: “Hari Akhir tidak akan datang kepada kita sampai dataran Arab sekali lagi menjadi dataran berpadang rumput dan dipenuhi dengan sungai-sungai( HR Muslim) ” Dari Hadist Rasulallah SAW di atas ada beberapa informasi yang didapat:

1. Informasi datangnya hari akhir / kiamat

2. Dahulu kala dataran / jazirah Arab pernah menjadi padang rumpur yang subur dan dipenuhi dengan sungai-sungai dan

3. Nanti, dataran Arab sekali lagi akan menjadi padang rumput dan dipenuhi dengan sungai-sungai, sebagai salah satu tanda datangnya hari kiamat.

Berikut adalah gambar-gambar turunnya salju di Arab



                      http://apabe.blogspot.com/2010/08/salju-turun-di-arab-pertanda-hari.html

Thursday, October 21, 2010

Hawking: Tuhan Bukan Pencipta Alam Semesta


Alam semesta tidak diciptakan oleh Tuhan," ujar ilmuwan Stephen Hawking di dalam buku terbarunya.
Profesor Hawking percaya bahwa hukum fisika adalah faktor utama terjadinya Big Bang, sebuah ledakan besar yang menyebabkan terbentuknya alam semesta). Jadi pencipta alam semesta bukanlah Tuhan, seperti yang diceritakan di dalam kitab-kitab suci semua agama. Demikian seperti yang dikutip dari Press Association, Kamis ( 2/9/2010).

Dalam buku yang berjudul 'The Grand Design', Profesor Hawking menyimpulkan jika alam semesta tercipta berkat adanya hukum gravitasi. Dengan demikian alam semesta bisa dan akan menciptakan dirinya sendiri dari ketiadaan.

"Penciptaan secara spontanitas adalah alasan bahwa ada sesuatu dari hal yang tidak ada. Itulah artinya mengapa alam semesta itu ada, mengapa kita ada,"
"Tidaklah perlu untuk melibatkan Tuhan dalam menciptakan dan menjalankan alam semesta," tambah Hawking.

'The Grand Design' merupakan buku terbaru dari ilmuwan yang menderita lumpuh permanen ini. Penulisan
buku ini dibantu oleh Leonard Mlodinow, seorang ahli fisika asal Amerika. Buku tersebut akan dirilis pada tanggal 9 September dan diperkirakan bakal menjadi tantangan untuk teori dari Sir Isaac Newton yang menyebutkan bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan.
Profesor Hawking sebelumnya menerima keberadaan Tuhan berkaitan dengan penciptaan alam semesta dalam buku yang berjudul 'A Brief of Time' (1988). Dalam buku tersebut ilmuwan yang lahir pada 1942 ini sempat menuliskan "Jika kita menemukan teori yang lengkap terkait penciptaan alam semesta, itu akan menjadi kemenangan yang besar bagi umat manusia. Untuk sementara itu, kita harus tahu pikiran dari Tuhan". Namun kini pandangannya telah berubah.

Saturday, September 25, 2010

Tinggalkan Minyak di Tanah untuk Melawan Perubahan Iklim



Sebuah inisiatif baru untuk melawan perubahan iklim dan melestarikan hutan yaitu dengan meninggalkan minyak di tanah lepas landas di Ekuador. Diharapkan negara-negara lain akan memberikan kontribusi dana dan berbagi biaya pembatalan pendapatan minyak itu. Demikian menurut Martin Khor, Direktur South Centre dalam artikelnya yang dimuat di The Star, Malaysia, 20 September 2010.
Apa yang akan pemimpin negara lakukan jika cadangan minyak yang ditemukan di bawah hutan hujan tropis dari taman nasional utama negaranya?
 
Pemerintah secara alami akan dalam dilema. Jika hutan dihancurkan untuk mengekstrak minyak, negara dan dunia akan kehilangan taman nasional dan hutan dengan keanekaragaman hayati yang kaya.
 
Selain itu, ekstraksi dan penggunaan minyak akan merilis banyak karbon dioksida ke atmosfir, berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Tapi jika minyak akan dibiarkan di dalam tanah untuk melindungi hutan dan menghindari emisi, negara ini akan kehilangan banyak pendapatan ekspor dan pendapatan negara yang dapat digunakan untuk pembangunan. Para ekonom menyebut ini biaya pilihan.
 
Mengingat prioritas dominan dan nilai-nilai dunia modern, di mana ekonomi dan bisnis yang diletakkan di atas lingkungan, sebagian besar negara akan memotong hutan, merusak taman dan mengekstrak minyak.
  
Pekan lalu, Martin Khor, mendengar kasus nyata dari negara berkembang menghadapi dilema ini dan menggunakan sebuah pendekatan alternatif untuk mengatasi itu.
   
Ekuador adalah sebuah negara Amerika Selatan dengan populasi kecil yaitu 13 juta penduduk yang telah diberkati dengan alam.
 
Negara ini memiliki empat wilayah ekologi besar - pantai yang menghadap Samudra Pasifik, satu set pulau di laut itu, pegunungan Andes di mana modal kota Quito berada, dan hutan Amazon.
  
Di Quito, di Departemen Warisan (yang bertanggung jawab terhadap lingkungan negara), Profesor Carlos Larrea Maldonado menjelaskan kepada Khor tentang inisiatif unik Ekuador meninggalkan cadangan minyak besar di tanah di Taman Nasional Yasuni dengan imbalan dana internasional.
Menurut Khor dalam artikelnya, dana yang sebagian untuk menebus hilangnya pendapatan minyak, akan digunakan oleh negara ini untuk melestarikan hutan, mengembangkan energi terbarukan, dan meningkatkan pembangunan sosial.
 
Dr. Maldonado adalah seorang profesor ilmu sosial dan global di Simon Bolivar University, dan diminta oleh pemerintah untuk mengembangkan inisiatif Yasuni-ITT.
  
Presiden Ecuador, Rafael Correa, mengumumkan di PBB bahwa Ekuador telah memutuskan untuk mempertahankan minyak mentah (ditemukan di ITT (Ishpingo-Tambococha-Tiputini) lapangan yang berlokasi di Taman Nasional Yasuni) tanpa batas bawah tanah.
Ini dalam rangka melaksanakan nilai-nilai sosial dan lingkungan yang pertama, sementara cara lain akan ditemukan untuk memperoleh manfaat ekonomi bagi negara.
 
Dalam inisiatif ini, masyarakat internasional akan memberikan kontribusi setidaknya setengah pendapatan dari negara yang menerima hasil ekstraksi minyak itu, sementara pemerintah akan berasumsi sampai setengah dari biaya peluang menjaga minyak di tanah.
 
Taman Yasuni adalah salah satu cadangan biologis yang paling penting dan beragam di dunia. Ini mencakup sekitar satu juta hektar, dan ladang ITT adalah sekitar 20% dari luas total taman.
Ada 846 juta barel cadangan minyak ditemukan di ladang ITT, yang diperkirakan menghasilkan pendapatan sebesar US 7,25 milyar (nilai sekarang) untuk negara.
 
Pemerintah berencana untuk meninggalkan minyak di tanah, dan terus melestarikan taman. Ini juga akan menghindari perkiraan 407 juta ton emisi karbon dioksida yang dihasilkan oleh pembakaran minyak ITT.
 
Emisi sebesar 407 juta ton dapat senilai US 8,07 milyar, sesuai dengan harga saat ini karbon dioksida yang diperdagangkan di pasar karbon Eropa (US 19,81 per ton karbon dioksida).
Di bawah inisiatif Yasuni-ITT, Ekuador mengusulkan bahwa komunitas internasional memberikan kontribusi setidaknya US 3,6 miliar menjadi danatrust fund yang dikelola oleh United Nations Development Programme (UNDP).
 
Jadi, dari US 7,25 milyar pendapatan minyak terdahulu, pemerintah akan menanggung setengah biaya sementara dana internasional yang disumbangkan oleh pemerintah asing dan sumbangan pribadi akan menanggung setengah lainnya.
 
Modal dana itu akan diinvestasikan ke proyek-proyek energi terbarukan (tenaga air, panas bumi, angin dan matahari) dalam rangka mengatasi ketergantungan Ekuador terhadap bahan bakar fosil yang menyebabkan perubahan iklim.
Bunga yang diperoleh dari dana tersebut akan digunakan untuk melestarikan hutan di 44 kawasan lindung, membantu reboisasi petani kecil dan mengelola satu juta hektar hutan, meningkatkan efisiensi energi dan pembangunan sosial.
 
PBB mendukung proyek tersebut, dengan UNDP telah membentuk danatrust fund. Pekan lalu kontribusi pertama dari US 200 ribu dilakukan oleh Chili. Ekuador berharap bahwa negara-negara Eropa maupun Amerika Serikat (AS) akan memberikan jumlah kontribusi yang signifikan.
 
Ekuador berharap bahwa inisiatif ini akan menjadi "pilot proyek" yang bisa diakui oleh Konvensi Iklim PBB sebagai contoh "menghindari emisi".
Sejauh ini, UNFCCC telah mengakui menghindari deforestasi sebagai kontribusi bagi mitigasi perubahan iklim, dan negara-negara berkembang dapat mengajukan permohonan untuk dana sistem melestarikan hutan dan reboisasi.
 
Ekuador berharap bahwa UNFCCC juga akan mengakui "menjaga minyak di tanah" sebagai metode lain untuk menghindari emisi dan yang dapat menyediakan dana untuk negara-negara berkembang.
 
Ekuador mengusulkan, dengan inisiatif Yasuni-ITT sebagai contoh pertama, mekanisme baru dengan menyiapkan dana ke negara-negara berkembang yang meninggalkan cadangan bahan bakar fosil yang terletak di daerah lingkungan atau kawasan budaya rentan bawah tanah selamanya.
Menurut kriteria yang dikerjakan oleh Prof. Maldonado dan timnya, negara-negara yang memenuhi syarat, selain Ekuador, mencakup Malaysia, Indonesia, Filipina, India, Papua Nugini, Brasil, Kolombia, Venezuela, Bolivia, Peru, Kosta Rika, Republik Demokratik Kongo dan Madagaskar.
  
Inisiatif Yasuni telah menerima dukungan dari beberapa individu terkenal termasuk pemenang Hadiah Nobel (seperti Desmund Tutu dan Rigoberta Menchi), mantan pemimpin politik (Mikail Gorbachev dari Rusia, Fernado Cadoso dari Brasil dan Felipe Gonzales dari Spanyol) Pangeran Charles, dan banyak organisasi internasional seperti UNASUR (
South American Union of Nations), Organisasi Negara-Negara Amerika dan LSM lingkungan dan masyarakat adat.
Ini akan menarik untuk melihat seberapa jauh pesan Initiative Yasuni akhirnya berjalan, dan apakah inisiatif tersebut lebih banyak diambil oleh negara-negara lain demi untuk melestarikan hutan, meninggalkan minyak atau batubara di tanah, dan melawan perubahan iklim, dengan perhatian negara-negara dan komunitas internasional berbagi biaya dan manfaat.


Tuesday, September 7, 2010

Rencana Konservasi Hutan Indonesia, Terancam Gagal Kurangi Emis





Sepertiga dari emisi gas rumah kaca Indonesia dari deforestasi berasal dari kawasan yang tidak resmi didefinisikan sebagai "hutan", sehingga upaya untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi (REDD +) tearancam gagal kecuali perhitungan mereka untuk karbon di seluruh lansekap negara itu. Demikian terungkap dalam sebuah laporan baru yang diterbitkan oleh World Agroforestry Centre.
Laporan briefing kebijakan itu menemukan bahwa hingga 600 juta ton emisi karbon hutan Indonesia "terjadi di luar kawasan yang didefinisikan sebagai hutan," karena itu tidak terhitung berdasarkan kebijakan nasional  REDD+ saat ini, yang jika diterapkan, akan memungkinkan Indonesia untuk mendapatkan kompensasi dari negara-negara industri untuk melindungi karbon yang padat  di hutan dan lahan gambut sebagai mekanisme perubahan iklim.
Sementara REDD + dipandang sebagai cara yang menjanjikan untuk mendanai konservasi hutan, sedangkan secara bersamaan terjadi perlambatan perubahan iklim dan menghasilkan peluang untuk pembangunan berkelanjutan. Namun REDD + di Indonesia masih mengalami kerancuan tentang apa yang disebut "hutan." Sektor kehutanan tertarik untuk mengklasifikasikan perkebunan sebagai hutan, yang akan bisa menghasilkan biaya karbon subsidi konversi "kerusakan" hutan dan lahan berkayu - beberapa di antaranya mungkin menyimpan sejumlah besar karbon - termasuk industri kayu dan perkebunan kelapa sawit.
Laporan CGIAR menyoroti risiko ini, bahwa cadangan karbon di luar kawasan hutan dapat habis pada 2032 jika kecenderungan ini terus berlangsung. Dikatakan "kebocoran", atau pengalihan deforestasi dari daerah yang dilindungi dari eksploitasi, akan menjadi penggerak utama dari emisi.
"Jika emisi karbon dari luar kawasan hutan terhitung, akan menjadi jelas bahwa tidak ada pengurangan emisi bersih di Indonesia," ungkap laporan ini.
Untuk menghindari hasil ini dan menghentikan perdebatan atas definisi hutan, laporan CGIAR mengusulkan sistem perhitungan karbon yang lebih komprehensif, yang dijuluki "Pengurangan Emisi dari Semua Penggunaan Tanah" (Reducing Emissions from All Land Uses - REALU) (http://www.asb.cgiar.org/pdfwebdocs/ASBPB13.pdf).

"REALU dapat lebih efektif mengurangi emisi bersih, dan lebih menjamin kegiatan pengurangan lokal yang sesuai," ungkap laporan CGIAR. "Pendekatan REALU dapat mengatasi ketidakjelasan definisi hutan dan membantu menangkap kebocoran emisi antar sektor."
Laporan ini berpendapat bahwa pendekatan yang lebih holistik akan lebih baik menghitung karbon yang tersimpan dalam tanah serta emisi dari pertanian. Di sini menyimpulkan dengan mencatat bahwa hasil sementara masih awal, perlu memikirkan kembali " desain kebijakan REDD + agar lebih bijaksana.
"Desain REDD + di Indonesia (dan kondisi serupa di tempat lain) mungkin memerlukan pemikiran ulang yang serius," tulis penulis laporan. "Di sini juga dapat membawa desain REDD + internasional kembali, terutama dalam pendapat yang terang untuk sebuah pendekatan yang komprehensif untuk pengurangan emisi dari pertanian."