Search for Green

Showing posts with label Info. Show all posts
Showing posts with label Info. Show all posts

Sunday, January 29, 2012

Asal Mula AIDS


 
Unikaneh.com - 
Virus HIV AIDS sebenarnya bukan berasal dari simpanse, tetapi ciptaan para ilmuwan yang kemudian diselewengkan melalui rekayasa tertentu untuk memusnahkan etnis tertentu. (Jerry D. Gray, Dosa-dosa Media Amerika - Mengungkap Fakta Tersembunyi Kejahatan Media Barat, Ufuk Press 2006 h. 192).

Tulisan Allan Cantwell, Jr. M.D. ini mengungkapakan rahasia asal-usul AIDS dan HIV, juga bagaimana ilmuwan menghasilkan penyakit yang paling menakutkan kemudian menutup-nutupinya.

Teori” Monyet Hijau

1.Tidak sedikit orang yang sudah mendengar teori bahwa AIDS adalah ciptaan manusia. Menurut The New York Times yang terbit 29 Oktober 1990, tiga puluh persen penduduk kulit hitam di New York City benar-benar percaya bahwa AIDS adalah “senjata etnis” yang didesain di dalam laboratorium untuk menginfeksi dan membunuh kalangan kulit hitam. Sebagian orang bahkan menganggap teori konspirasi AIDS lebih bisa dipercaya dibandingkan teori monyet hijau Afrika yang dilontarkan para pakar AIDS. Sebenarnya sejak tahun 1988 para peneliti telah membuktikan bahwa teori monyet hijau tidaklah benar. Namun kebanyakan edukator AIDS terus menyampaikan teori ini kepada publik hingga sekarang. Dalam liputan-liputan media tahun 1999, teori monyet hijau telah digantikan dengan teori simpanse di luar Afrika. Simpanse yang dikatakan merupakan asal-usul penyakit AIDS ini telah diterima sepenuhnya oleh komunitas ilmiah.

2. “Pohon keturunan” filogenetik virus primata (yang hanya dipahami segelintir orang saja) ditampilkan untuk membuktikan bahwa HIV diturunkan dari virus primata yang berdiam di semak Afrika. Analisis data genetika virus ditunjukkan melalui “supercomputer” di Los Alamos, Mexico, menunjukkan bahwa HIV telah “melompati spesies’, dari simpanse ke manusia sekitar tahun 1930 di Afrika.

Eksperimen Hepatitis B Pra-AIDS kepada Pria Gay (1978-1981)

Ribuan pria gay mendaftar sebagai manusia percobaan untuk eksperimen vaksin hepatitis B yang “disponsori pemerintah AS” di New York, Los Angeles, dan San Fransisco. Setelah beberapa tahun, kota-kota tersebut menjadi pusat sindrom defisiensi kekebalan terkait gay, yang belakangan dikenal dengan AIDS. Di awal 1970-an, vaksin hepatitis B dikembangkan di dalam tubuh simpanse. Sekarang hewan ini dipercaya sebagai asal-usul berevolusinya HIV. Banyak orang masih merasa takut mendapat vaksin hepatitis B lantaran asalnya yang terkait dengan pria gay dan AIDS. Para dokter senior masih bisa ingat bahwa eksperimen vaksin hepatitis awalnya dibuat dari kumpulan serum darah para homoseksual yang terinfeksi hepatitis.

Kemungkinan besar HIV “masuk” ke dalam tubuh pria gay selama uji coba vaksin ini. Ketika itu, ribuan homoseksual diinjeksi di New York pada awal 1978 dan di kota-kota pesisir barat sekitar tahun 1980-1981.

Apakah jenis virus yang terkontaminasi dalam program vaksin ini yang menyebabkan AIDS? Bagaimana dengan program WHO di Afrika? Bukti kuat menunjukkan bahwa AIDS berkembang tak lama setelah program vaksin ini. AIDS merebak pertama kali di kalangan gay New York City pada tahun 1979, beberapa bulan setelah eksperimen dimulai di Manhattan. Ada fakta yang cukup mengejutkan dan secara statistik sangat signifikan, bahwa 20% pria gay yang menjadi sukarelawan eksperimen hepatitis B di New York diketahui mengidap HIV positif pada tahun 1980 (setahun sebelum AIDS menjadi penyakit “resmi’). Ini menunjukkan bahwa pria Manhattan memiliki kejadian HIV tertinggi dibandingkan tempat lainnya di dunia, termasuk Afrika, yang dianggap sebagai tempat kelahiran HIV dan AIDS. Fakta lain yang juga menghebohkan adalah bahwa kasus AIDS di Afrika yang dapat dibuktikan baru muncul setelah tahun 1982. Sejumlah peneliti yakin bahwa eksperimen vaksin inilah yang berfungsi sebagai saluran tempat “berjangkitnya” HIV ke populasi gay di Amerika. Namun hingga sekarang para ilmuwan AIDS mengecilkan koneksi apapun antara AIDS dengan vaksin tersebut.

Umum diketahui bahwa di Afrika, AIDS berjangkit pada orang heteroseksual, sementara di Amerika Serikat AIDS hanya berjangkit pada kalangan pria gay. Meskipun pada awalnya diberitahukan kepada publik bahwa “tak seorang pun kebal AIDS”, faktanya hingga sekarang ini (20 tahun setelah kasus pertama AIDS), 80% kasus AIDS baru di Amerika Serikat berjangkit pada pria gay, pecandu narkotika, dan pasangan seksual mereka. Mengapa demikian? Tentunya HIV tidak mendiskriminasi preferensi seksual atau ras tertentu. Apakah benar demikian?

Keserupaan dengan FLU Burung

Di pertengahan tahun 1990-an, para ahli biologi berhasil mengidentifikasi setidaknya 8 subtipe (strain) HIV yang menginfeksi berbagai orang di seluruh dunia. Telah terbukti, strain B adalah strain pra dominan yang menginfeksi gay di AS. Strain HIV ini lebih cenderung menginfeksi jaringan rektum, itu sebabnya para gay yang cenderung menderita AIDS dibandingkan non-gay

Sebaliknya, Strain HIV yang umum dijumpai di Afrika cenderung menginfeksi vagina dan sel serviks (leher rahim), sebagaimana kulup penis pria. Itu sebabnya, di Afrika, HIV cenderung berjangkit pada kalangan heteroseksual.

Para pakar AIDS telah memeberitahukan bahawa AIDS Amerika berasal dari Afrika, padahal Strain HIV yang umum dijumpai di kalangan pria gay nyaris tak pernah terlihat di Afrika! Bagaimana bisa demikian? Apakah sebagian Strain HIV direkayasa agar mudah beradaptasi ke sel yang cenderung menginfeksi kelamin gay?

Telah diketahui, pria ilmuwan SCVP (Special Virus Cancer Program) mampu mengadaptasi retrovirus tertentu agar menginfeksi jenis sel tertentu. Tak kurang sejak tahun 1970, para ilmuwan perang biologis telah belajar mendesain agen-agen (khususnya virus) tertentu yang bisa menginfeksi dan menyerang sel kelompok rasial “tertentu”. Setidaknya tahun 1997, Stephen O’Brien dan Michael Dean dari Laboratorium Keanekaragaman Genom di National Cancer Institute menunjukkan bahwa satu dari sepuluh orang kulit putih memiliki gen resisten-AIDS, sementara orang kulit hitam Afrika tidak memiliki gen semacam itu sama sekali. Kelihatannya, AIDS semakin merupakan “virus buatan manusia yang menyerang ras tertentu” dibandingkan peristiwa alamiah.

Berkat bantuan media Amerika, virus ini menyebar ke jutaan orang tertentu di seluruh dunia sebelum segelintir orang mulai waspada akan kejahatan di balik penciptaan virus ini. Di tahun 1981, pejabat kesehatan memastikan “masyarakat umum” bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan. “AIDS adalah penyakit gay” adalah jargon yang sering dikumandangkan media.

Setidaknya tahun 1987, Robert Gallo memberitahu reporter Playboy, David Black, “Saya pribadi belum pernah menemukan satu kasus pun (di Amerika) dimana pria terkena virus (AIDS) dari seorang wanita melalui hubungan intim heteroseksual .” Gallo melanjutkan, “AIDS tak akan menjadi bahaya yang tak bisa teratasi bagi masyarakat umum.” Apakah ini sekedar spekulasi ataukah Gallo mengetahui sesuatu yang tidak ia ceritakan?


Sunday, January 15, 2012

Membakar sampah, baik kah?

Urusan kita dengan sampah tidak berhenti saat kita membuang sampah saja. Membuang sampah di tempatnya memang baik, tetapi masih ada hal-hal yang kita perlu perhatikan setelah membuang sampah.




Beberapa dari kita memilih untuk membakar sampah yang telah terkumpul. Apakah pilihan untuk membakar sampah merupakan pilihan yang baik? Ternyata membakar sampah malah menimbulkan masalah baru lagi, khususnya bagi kesehatan kita.

Saat membakar sampah dalam tumpukan, tidak terjadi proses pembakaran yang baik. Pembakaran yang baik adalah dengan membutuhkan Oksigen (O2) yang cukup. Berbeda saat membakar tumpukan sampah, mungkin bagian luar tumpukan cukup mendapatkan Oksigen sehingga menghasilkan CO2, tapi di dalam tumpukkan sampah akan kekurangan O2 sehingga yang dihasilkan adalah gas Karbon Monoksida (CO).

Lalu kenapa dengan gas Karbon Monoksida?
Gas Karbon Monoksida (CO) merupakan gas yang berbahaya, karena dapat membunuh kita secara massal. Bila kita menghirup gas CO, hemoglobin darah yang seharusnya mengangkat dan mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh akan terganggu. Dengan begitu, tubuh akan mengalami kekurangan Oksigen, yang dapat berujung kematian.

Asap yang dihasilkan dari pembakaran sampah juga berbahaya, lho. Masalah juga muncul dari sampah organik, yang dapat mengakibatkan partikel-partikel yang tak terbakar akan berterbangan, atau menghasilkan reaksi yang menghasilkan hidrokarbon berbahaya. Hidrokarbon berbahaya yang dihasilkan asap pembakaran sampah, termasuk senyawa penyebab kanker yaitu benzopirena, nyatanya mencapai 350 kali lebih besar dari asap rokok. Semakin jauh, kita bisa terjangkit kanker paru-paru, infeksi paru-paru, asma, atau bronkitis.

Belum lagi dengan gas yang dihasilkan dari pembakaran sampah, yang juga dapat merusak atmosfer bumi. Gas tersebut adalah senyawa chlor, yang dihasilkan dari pembakaran plastik. Pembakaran bahan sintetis yang mengandung nitrogen, seperti nilon, busa poliuretan yang ada pada sofa atau karpet busa, juga membahayakan karena dapat menghasilkan gas HCN yang berbahaya.

Membuang sampah di tempatnya memang belum cukup. Proses dalam menghancurkan sampah nyatanya masih jauh lebih ribet lagi. Sehingga pada dasarnya, kita pun perlu mengurangi sampah, terutama sampah-sampah yang susah mengurai. Mengurangi konsumsi, memaksimalkan produk yang bisa digunakan berkali-kali daripada yang sekali pakai.

Be smart, be green.

Monday, January 9, 2012

Durban Climate Talks End Results

Hasil Akhir Perundingan Iklim Durban



Pada hari terakhir perundingan iklim di Durban, para pihak secara intensif membahas isu-isu kritis, yang mencakup bentuk rezim iklim ke depan sepertihasil tentang Dana Iklim Hijau (Green Climate Fund-GCF).
  
Green Climate Fund  - Ketidaksepakatan atas sekretariat sementara
Dalam laporan Meena Raman dari Third World Network (TWN) dari Durban (9/12) menyebutkan bahwa menurut salah satu sumber, draf keputusan GCFdekat dengan kesepakatan para pihak untuk diadopsi pada pertemuan ke-17 dari Konferensi Para Pihak (COP) untuk Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC). Namun, masalah kunci yang tersisa adalah tuan rumah sekretariat interim GCF. Pilihannya adalah (i) Sekretariat UNFCCC, (ii)Sekretariat Global Environment Facility(GEF), atau (iii) Kantor PBB di Jenewa,agar mengambil langkah-langkah administratif yang diperlukan untuk menjadi tuan rumah sekretariat sementara.
Di Cancun tahun lalu, para pihak sepakat bahwa GCF akan didukung olehsekretariat independen. Sementara itu Kelompok G77 dan China dalamperundingan intensif pada malam sebelumnya, menolak Sekretariat GEF sebagai pilihan, namun negara-negara maju bersikeras sebaliknya. Perundingan terusberlanjut pada Jumat pagi untuk menyelesaikan masalah.
 
Dalam pertemuan
 para Menteri Kamis malam (8 Desember) sekitar 22.00,Presiden COP/CMP Afrika Selatan, Ms. Maite Nkoana-Mashabane,menyampaikan pilihan dalam tabel tentang bentuk hasil hukum menurut UNFCCCseperti tabel lain pilihan terkait dengan periode komitmen kedua bagipengurangan emisi gas rumah kaca pihak Annex 1 (negara maju) di bawah Protokol Kyoto (KP).
(i) Berdasarkan Konvensi
  
Pilihan satu adalah sebuah protokol baru menurut Pasal 17 Konvensi atau instrumen hukum yang mengikat lain. Forum menurut pilihan ini adalah usulanuntuk Kelompok Kerja Ad-Hoc baru dan Kelompok Kerja Ad-Hoc tentang Aksi Kerjasama Jangka Panjang di bawah Konvensi (AWGLCA) pada COP 17. Jangka waktu mengadopsi sebuah protokol ini pada COP 18 atau COP 21.
  
Pilihan 2 (a) adalah menyelesaikan kesepakatan Bali (Action Plan) melalui protokol menurut Pasal 17 Konvensi atau instrumen hukum lain yang mengikat. Forum menurut pilihan ini adalah AWG-LCA melalui mandat baru dan jangka waktu untuk penerapan protokol pada COP 18 atau COP 21.
 
[Perbedaan antara Opsi 1 dan 2 (a) 
yaitu pilihan 1 adalah suatu perjanjian yang sama sekali baru yang tidak didasarkan pada hasil Bali, sementara pilihan2 (a) didasarkan pada hasil Bali.]
Pilihan 2 (b) adalah untuk menyelesaikan hasil kesepakatan Bali melalui hasil hukum sementara pilihani 2 (c) adalah untuk melengkapi hasil kesepakatan Bali melalui serangkaian keputusan. Forum untuk kedua pilihan ini adalah AWGLCA dan jangka waktunya adalah mengadopsi hasil hukum di COP18, COP 19 atau COP 21.
  
Pilihan 3 adalah menyelesaikan hasil kesepakatan Bali melalui serangkaian keputusan COP, dan mulai proses pasca-2020. Forum ini adalah AWGLCA untuk menyelesaikan hasil kesepakatan Bali, dan Kelompok Kerja Ad-hoc baru pasca-2020. Waktu tidak ditentukan.
 
Menurut 
salah satu sumber, sekitar 50 negara yang hadir diwakili oleh menteri masing-masing negara ketika pertemuan pertama yang diadakan sekitar pukul 10 malam, dan ada pernyataan umum dari para menteri. Setelah itu, pembentukan kelompok yang lebih kecil untuk proses yang diselenggarakan pada sekitar pukul 01.00, Jumat pagi, dimana sekitar 30 negara hadir mengatasi masalah "tingkat teknis" untuk mengidentifikasi pilihan yang bisa bekerja dan ini dihadiri oleh beberapa menteri dan pemimpin perundingan.
Uni Eropa mengungkapkan lebih memilih pilihan 1 sementara Aliansi Negara Kepulauan Kecil (Alliance of Small Island States ) mengungkapkan lebih memilih pilihan 2 (a). Negara Berkembang Terkecil (Least Developing Countries) juga mendukung pilihan 2 (a).
  
Sebuah sumber mengatakan bahwa banyak negara berkembang lebih memilih pilihan 3 dengan mengekspresikan bahwa bentuk seharusnya tidak harusmenduga hasilnya. Salah satu negara berkembang, saat mendukung pilihan 3 juga mengusulkan pilihan 4 dengan AWGLCA melanjutkan pekerjaannya.
 
Amerika Serikat, tampaknya, tidak siap untuk berkomitmen 
pada hasil yang mengikat secara hukum, tetapi mengungkapkan bahwa mungkin ada ruang untuk proses di bawah pilihan 3. Ini tidak bisa mendukung pilihan yang terstruktur mencerminkan kategorisasi negara  Rencana Aksi Bali (Bali Action Plan) sebagai negara maju dan berkembang.
(ii) Periode komitmen kedua dari Protokol Kyoto  
Pilihan
 juga disajikan untuk diskusi terkait komitmen kedua Protokol Kyoto(2CP).
 
Salah satu pilihan
 adalah penomeran yang menyatakan sebagai pembatasanemisi terukur dan pengurangan obyektif (QELROs) sebagai nomor tunggal di Durban dengan perubahan Lampiran B (dari Protokol) serta aplikasi sementaradan terbuka untuk ratifikasi penuh dengan aturan untuk 2CP yang diputuskan di Durban.
 
Pilihan lain adalah
 untuk nomor yang akan dinyatakan sebagai target dalam persentase di Durban, QELROs sebagai nomor tunggal pada tahun 2012 dan bentuk untuk menjamin kelangsungan  keputusan pada target; menyelesaikanQELROS pada tahun 2012, dengan perubahan pada CMP8 terbuka untukratifikasi penuh dan keputusan di Durban pada aturan untuk 2CP tersebut.
Sebuah pilihan lebih lanjut untuk target dinyatakan sebagai persentase di Durban, QELROs sebagai nomor tunggal pada tahun 2012, untuk bentukmenjadi keputusan atau pernyataan di Durban, tanpa amandemen dan aturan2CP diputuskan di Durban. 
  
Hasil Akhir Perundingan Iklim Durban

Menurut sebuah sumber, beberapa negara berkembang bertanya bagaimanatingkat ambisi itu akan dicapai terkait dengan opsi yang diajukan di bawahProtokol Kyoto dan jika pilihan deklarasi mengikat secara hukum.

Setelah
 tanggapan dari para pihak,Presidensi COP memberitahu para pihakbahwa dia akan memajukan diskusi lebih lanjut dengan usulan rancangan dalam bentuk keputusan.
 
Pertemuan
 berakhir sekitar 04.00 dan diharapkan bisa berlanjut di pagi hari ini.
Konsultasi Menteri
 
Sementara itu, menyusul penunjukan beberapa 
menteri untuk memimpin konsultasi menteri tentang sejumlah isu dari AWGLCA, menurut sebuah sumber, beberapa menteri telah melakukan "konsultasi bilateral" dengan para pihak pada isu-isu seperti “visi-bersama” dan “mitigasi”. Tampaknya pada Kamis, konsultasi itu sudah diselenggarakan pada isu “review”.
  
Para menteri yang membantu Presiden COP pada berbagai isu adalah sebagai berikut: Menteri Onkokame Mokaila dari Botswana untuk ‘shared vision’ (berbagi visi), Menteri Tim Groser dari Selandia Baru untuk ‘developed and developing country mitigation’ (mitigasi negara maju dan berkembang), Menteri Maria Fernanda Espinosa dari Ekuador untuk ‘Adaptation Committee’ (KomiteAdaptasi), Utusan Khusus Venezuela Claudia Salerno untuk ‘response measures’ (tindakan respon), Menteri Nathalie Kosciusko-Morizet dari Prancis untuk ‘sectoral approaches’ (pendekatan sektoral), dan Menteri Chris Huhne dari Inggris untuk 'review' (tinjauan).
 
Beberapa 
pihak negara berkembang mengeluh dalam hal bahwa mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi dan dimana pertemuan itu diselenggarakan dansiapa yang sedang berkonsultasi.
AWGLCA  
Sementara itu, perselisihan besar terus ber
langsung atas isu-isu dalam beberapa kelompok informal.
 
Pada kelompok informal transfer teknologi, negara-negara maju bersatu dalam oposisi untuk 
usulan Bolivia (didukung oleh Filipina) yang "meminta Komite Eksekutif Teknologi untuk mempertimbangkan isu-isu yang berkaitan dengan hak kekayaan intelektual (HKI) terkait dengan pengembangan dan transfer teknologi."
 
AS mengatakan bahwa 
seharusnya tidak ada bahasa pada HKI karena ini bukan forum yang tepat untuk membahas topik ini. Uni Eropa dan negara-negara maju lainnya menggemakan sentimen AS.
 
Filipina juga membuat 
usulan tentang perlunya Jaringan dan Pusat Teknologi Iklim (Climate Technology Center and Network -CTCN) untuk memberikan nasihat dan dukungan kepada negara-negara berkembang pada pelaksanaan penilaian teknologi tentang teknologi baru pada pengembangan dan transferteknologi berdasarkan kebutuhan. Ini juga ditentang oleh negara-negara maju.

Sumber Selengkapnya: