Search for Green

Thursday, August 26, 2010

Fenomena 4 Matahari Muncul Bersamaan di China

Dengan Blackberry Messenger kemarin diedarkan sebuah video yang berisi adanya fenomena munculnya 4 matahari di China. Blogosfer sudah sejak beberapa hari sebelumnya diramaikan oleh video ini. Apabila Kawan-Kawan ingin melihatnya, silakan ke Youtube.
Di sebuah forum disebutkan bahwa akhir zaman sudah dekat! Munculnya matahari sebanyak 4 buah secara bersamaan itu dikatakan sebagai tanda-tanda bahwa kiamat akan segera terjadi. Padahal, salah satu tanda akan datangnya hari kiamat yang berhubungan dengan matahari adalah apabila matahari terbit dari barat, bukan mathari muncul sebanyak 4 buah.
Sundog


Fenomena munculnya 4 matahari secara bersamaan di langit Laiyang, China itu bisa dijelaskan sebagai fenomena sundog. Sundog atau nama ilmiahnya parhelion (bentuk jamak dari parhelia) yang berarti “di sebelah matahari”. Sundog adalah penomena atmosferik yang menghasilkan titik terang cahaya di langit. Sering berupa cincin yang melingkari atau berada di sisi matahari. Fenomena ini terjadi karena adanya pembiasan cahaya.
Sundogs dibentuk oleh pelat-kristal es berbentuk heksagonal di awan cirrus tinggi yang dingin atau, pada saat cuaca sangat dingin, oleh kristal es yang disebut debu berlian yang melayang di udara pada tingkat yang rendah. Kristal ini bertindak sebagai prisma, membelokkan sinar cahaya melewati mereka dengan sudut 22 °. Apabila kristal-kristal berorientasi secara acak, sebuah cincin lengkap mengelilingi matahari akan terlihat – yaitu sebuah halo. Namun seringkali kristal-kristal tenggelam di dalam udara menjadi vertikal selaras sehingga sinar matahari dibiaskan horizontal – dalam hal ini, sundogs terlihat.
sundog8_640x480.jpg
800px-Sundogs_-_New_Ulm.JPG
Gambar sundog yang lain dapat dilihat di sini >>>>>>
Nah, jangan langsung percaya pada apa yang dikatakan orang. Di zaman internet seperti sekarang ini, kita tentu bisa mendapatkan informasi yang lebih terpercaya mengenai hal-hal yang terjadi di jagad raya ini karena bisa jadi jawabannya suda ada di dalam ilmu pengetahuan.

SOURCE :K0mb0r.com

Monday, August 23, 2010

Earth WATER FOR THE FUTURE






Tolong baca dan dihayati,lalu kirim ke teman teman anda


Kepada Yth
Manusia
Di
Tahun 2010

Aku hidup di tahun 2050. Aku berumur 50 tahun, tetapi kelihatan seperti sudah 85 tahun.

Aku mengalami banyak masalah kesehatan, terutama masalah ginjal karena aku minum sangat sedikit air putih.

Aku fikir aku tidak akan hidup lama lagi. Sekarang, aku adalah orang yang paling tua di lingkunganku, Aku teringat disaat aku berumur 5 tahun semua sangat berbeda, masih banyak pohon di hutan dan tanaman hijau di sekitar, setiap rumah punya halaman dan taman yang indah, dan aku sangat suka bermain air dan mandi sepuasnya.

Sekarang, kami harus membersihkan diri hanya dengan handuk sekali pakai yang di basahi dengan minyak mineral.

Sebelumnya, rambut yang indah adalah kebanggaan semua perempuan. Sekarang, kami harus mencukur habis rambut untuk membersihkan kepala tanpa menggunakan air.

Sebelumnya, ayahku mencuci mobilnya dengan menyemprotkan air langsung dari keran ledeng. Sekarang, anak-anak tidak percaya bahwa dulunya air bisa digunakan untuk apa saja.

Aku masih ingat seringkali ada pesan yang mengatakan: �JANGAN MEMBUANG BUANG AIR�

Tapi tak seorangpun memperhatikan pesan tersebut. Orang beranggapan bahwa air tidak akan pernah habis karena persediaannya yang tidak terbatas. Sekarang, sungai, danau, bendungan dan air bawah tanah semuanya telah tercemar atau sama sekali kering.

Pemandangan sekitar yang terlihat hanyalah gurun-gurun pasir yang tandus. Infeksi saluran pencernaan, kulit dan penyakit saluran kencing sekarang menjadi penyebab kematian nomor satu. Industri mengalami kelumpuhan, tingkat pengangguran mencapai angka yang sangat dramatik. Pekerja hanya dibayar dengan segelas air minum per harinya.

Banyak orang menjarah air di tempat-tempat yang sepi. 80% makanan adalah makanan sintetis. Sebelumnya, rekomendasi umum untuk menjaga kesehatan adalah minum sedikitnya 8 gelas air putih setiap hari. Sekarang, aku hanya bisa minum setengah gelas air setiap hari.

Sejak air menjadi barang langka, kami tidak mencuci baju, pakaian bekas pakai langsung dibuang, yang kemudian menambah banyaknya jumlah sampah.

Kami menggunakan septic tank untuk buang air, seperti pada masa lampau, karena tidak ada air.

Manusia di jaman kami kelihatan menyedihkan: tubuh sangat lemah; kulit pecah-pecah akibat dehidrasi; ada banyak koreng dan luka akibat banyak terpapar sinar matahari karena lapisan ozon dan atmosfir bumi semakin habis. Karena keringnya kulit, perempuan berusia 20 tahun kelihatan seperti telah berumur 40 tahun.

Para ilmuwan telah melakukan berbagai investigasi dan penelitian, tetapi tidak menemukan jalan keluar. Manusia tidak bisa membuat air. Sedikitnya jumlah pepohonan dan tumbuhan hijau membuat ketersediaan oksigen sangat berkurang, yang membuat turunnya kemampuan intelegensi generasi mendatang.

Morphology manusia mengalami perubahan� yang menghasilkan/melahirkan anak-anak dengan berbagai masalah defisiensi, mutasi, dan malformasi.
Pemerintah bahkan membuat pajak atas udara yang kami hirup: 137 m3 per orang per hari. [31.102 galon]

Bagi siapa yang tidak bisa membayar pajak ini akan dikeluarkan dari �kawasan ventilasi� yang dilengkapi dengan peralatan paru-paru mekanik raksasa bertenaga surya yang menyuplai oksigen.

Udara yang tersedia di dalam �kawasan ventilasi� tidak berkulitas baik, tetapi setidaknya menyediakan oksigen untuk bernafas.Umur hidup manusia rata-rata adalah 35 tahun.

Beberapa negara yang masih memiliki pulau bervegetasi mempunyai sumber air sendiri. Kawasan ini dijaga dengan ketat oleh pasukan bersenjata. Air menjadi barang yang sangat langka dan berharga, melebihi emas atau permata.

Disini ditempatku tidak ada lagi pohon karena sangat jarang turun hujan. Kalaupun hujan, itu adalah hujan asam.Tidak dikenal lagi adanya musim. Perubahan iklim secara global terjadi di abad 20 akibat efek rumah kaca dan polusi.

Kami sebelumnya telah diperingatkan bahwa sangat penting untuk menjaga kelestarian alam, tetapi tidak ada yang peduli. Pada saat anak perempuanku bertanya bagaimana keadaannya ketika aku masih muda dulu, aku menggambarkan bagaimana indahnya hutan dan alam sekitar yang masih hijau.

Aku menceritakan bagaimana indahnya hujan, bunga, asyiknya bermain air, memancing di sungai, dan bisa minum air sebanyak yang kita mau. Aku menceritakan bagaimana sehatnya manusia pada masa itu.

Dia bertanya: - Ayah ! Mengapa tidak ada air lagi sekarang ?

Aku merasa seperti ada yang menyumbat tenggorokanku. ..

Aku tidak dapat menghilangkan perasaan bersalah, karena aku berasal dari generasi yang menghancurkan alam dan lingkungan dengan tidak mengindahkan secara serius pesan-pesan pelestarian� dan banyak orang lain juga !.

Aku berasal dari generasi yang sebenarnya bisa merubah keadaan, tetapi tidak ada seorangpun yang melakukan. Sekarang, anak dan keturunanku yang harus menerima akibatnya, Sejujurnya, dengan situasi ini kehidupan di planet bumi tidak akan lama lagi punah, karena kehancuran alam akibat ulah manusia sudah mencapai titik akhir.

Aku berharap untuk bisa kembali ke masa lampau dan meyakinkan umat manusia untuk mengerti apa yang akan terjadi� Pada saat itu masih ada kemungkinan dan waktu bagi kita untuk melakukan upaya menyelamatkan planet bumi ini !

Tolong Kirim surat ini ke semua teman dan kenalan anda, walaupun hanya berupa pesan, kesadaran global dan aksi nyata akan pentingnya melestarikan air dan lingkungan harus dimulai dari setiap orang.

Persoalan ini adalah serius dan sebagian sudah menjadi hal yang nyata dan terjadi di sekitar kita.

Lakukan untuk anak dan�keturunan mu kelak�


�AIR DAN�BUMI UNTUK MASA DEPAN�

Earth WATER FOR THE FUTURE


My Wishing All A drop of WATER on Respecting our beloved earth ....!!!

ADMIN : Ran GGFW
Thx for All....!!!

Tuesday, August 3, 2010

Pertanian Organik Mengatasi Perubahan Iklim dan Tingkatkan Ketahanan Pangan

Pertanian Organik Mengatasi Perubahan Iklim dan Tingkatkan Ketahanan Pangan

Pertanian organik berperan penting dalam menangani dua isu terbesar dan paling mendesak di dunia, yaitu perubahan iklim dan ketahanan pangan. Saat Konferensi Perubahan Iklim di Kopenhagen, Desember 2009 lalu, International Federation of Organic Agriculture Movements (IFOAM) telah mengeluarkan tiga publikasi panduan yang menjelaskan bagaimana mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dan ketahanan pangan yang tak terpisahkan dan melekat erat pada karakteristik Pertanian Organik yang menguntungkan.

Buku panduan pertama berjudul “Pertanian Organik Panduan untuk Perubahan Iklim dan Ketahanan Pangan”, kedua berjudul “Kontribusi Pertanian Organik Pada Adaptasi Perubahan Iklim di Afrika”, dan ketiga berjudul “Kontribusi Pertanian Organik Pada Mitigasi PErubahan Iklim.

Dalam buku berjudul “Pertanian Pertanian Organik Panduan untuk Perubahan Iklim dan Ketahanan Pangan” menyebutkan bahwa seiring dengan peningkatan populasi dunia, permintaan makanan dan energi terbarukan juga akan meningkat. Hal ini dikombinasikan pula dengan peningkatan tingkat keparahan dan frekuensi dari dampak perubahan iklim serta kenaikan harga bahan bakar fosil berbasis pupuk kimia, herbisida dan pestisida akan memberikan tekanan besar pada produksi pertanian dan paling signifikan pada kaum miskin di dunia.Faktor-faktor ini akan meningkatkan jumlah orang yang kelaparan di seluruh dunia. 
Namun produksi pertanian saat ini telah gagal untuk memenuhi makanan termiskin di dunia. Meskipun makanan yang diproduksi di level global cukup, jumlah orang kelaparan di dunia mencapai satu miliar pada tahun 2009 untuk pertama kalinya. Angka ini akan terus meningkat bila ‘business as usual’ berlaku.

Perubahan iklim dan krisis pangan global telah sampai pada kerentanan, tidak berkelanjutan dan ketimpangan sosial pertanian dan produksi pangan. Telah berkembang pemahaman bahwa kebijakan dan praktik telah gagal untuk memberi makan orang-orang di dunia yang paling rentan, gagal beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terus terjadi, dan gagal melindungi ekosistem yang sangat mendukung manusia. Para pembuat kebijakan saat ini mengacu pada 'bahan tanah organik', 'karbon tanah,' 'jasa ekosistem' dan pendekatan ‘holistik', semuanya merupakan pilar utama Pertanian Organik.

Pertanian Organik dipraktikkan di seluruh dunia oleh 1,2 juta produsen di 141 negara, dengan produksi pangan organik terus meningkat minimal 15 persen per tahun. Pasar global memperkirakannya bernilai sekitar US 50 miliar per tahun. Sementara sebagian besar pasar organik berada di negara-negara maju, negara berkembang menjadi pemasok penting karena praktik organik sangat cocok untuk kondisi petani mereka.

Pertanian Organik telah dipraktikan bersamaan untuk mengurangi perubahan iklim, membangun sistem pertanian ulet, mengurangi kemiskinan dan meningkatkan keamanan pangan. Pertanian Organik memancarkan tingkat gas rumah kaca (GRK) yang jauh lebih rendah dan cepat, terjangkau dan efektif mengaramkan karbon ke dalam tanah. Selain itu, Pertanian Organik membuat lahan dan manusia lebih tahan terhadap perubahan iklim, terutama karena airnya efisiensi, tahan terhadap cuaca ekstrim dan risiko kegagalan panen yang lebih rendah. Pada akhirnya, realisasi pada tingkat politik tertinggi, bahwa makanan harus tumbuh di mana orang hidup - terutama di negara-negara berkembang dimana masyarakat  paling rentan terhadap fluktuasi harga pangan. Pertanian Organik menempatkan adaptasi lokal, produksi dan konsumsi di jantung sistem, strategi dan kebijakan.

Pertanian Organik sangat penting dan paling luas mempraktikkan sistem pertanian agro-ekologi. Pertanian organik mencapai tujuan ganda, yaitu memungkinkan orang untuk berkembang sekaligus meningkatkan ekosistem dan fungsinya. Pertanian Organik telah memimpin dunia dalam pengembangan sistem produksi yang berkelanjutan selama lebih dari enam puluh tahun * dan juga mempelopori pengembangan standar, sistem sertifikasi dan pasar untuk produk yang berkelanjutan. Konsumen produk Pertanian Organik mengakui pentingnya peran petani organik dalam melindungi ekosistem dan memproduksi makanan sehat bebas kimia. Sekarang ada standar nasional diadaptasi Pertanian Organik di lebih dari 40 negara termasuk Amerika Serikat dan Jepang serta tiga standar regional di Uni Eropa, Afrika Timur dan Pasifik.

Pertanian Organik memiliki kekayaan produksi, sertifikasi dan pengalaman pemasaran dan pengembangan praktik selama bertahun-tahun di banyak iklim, topografi dan wilayah budaya yang beragam di dunia. Sekarang ini tersedia integrasi ke perubahan iklim internasional dan nasional serta kebijakan ketahanan pangan.

Bermanfaat dan Lestari

Pertanian Organik secara luas diakui bermanfaat untuk kelestarian lingkungan. Sebuah studi baru-baru ini oleh 
Asian De velopment Bank Institute merekomendasikan praktik pertanian yang ramah iklim. FAO telah menetapkan Pertanian Organik sebagai cara yang menjanjikan untuk melakukan mitigasi dan beradaptasi dengan perubahan iklim dan IPCC’s Fourth Assessment Report (Laporan Kajian Keempat IPCC) - tanpa menyebutkan Pertanian Organik secara eksplisit – telah merekomendasikan beberapa praktik untuk mengurangi emisi pertanian, seperti yang secara umum dipraktikkan Pertanian Organik, yaitu daur ulang sampah biomassa sebagai sumber nutrisi, integrasi tanaman dan hewan menjadi sistem produksi pertanian tunggal.

Laporan IAASTD mengakui bahwa masyarakat telah merasakan dampak tidak meratanya hasil panen di daerah-daerah yang mengakibatkan ketimpangan dalam kemiskinan, kesehatan, gizi dan perdagangan. Hal ini meningkatkan biaya produktivitas termasuk lingkungan yang tidak berkelanjutan, degradasi dan hilangnya tanah, pemanfaatan air berlebih, polusi air, hilangnya habitat dan keanekaragaman hayati, pemanasan global dan perubahan iklim.IAASTD merekomendasikan teknik pengelolaan inti organik untuk mensukseskan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, termasuk rotasi tanaman kacang-kacangan, mendukung rendahnya input eksternal pertanian, menerapkan praktik konservasi air, mempromosikan agro-biodiversity untuk meningkatkan ketahanan sistem pertanian dan diversifikasi pertanian.

Pertanian Organik adalah suatu pendekatan sistem yang menggabungkan berbagai praktek secara optimal dan sinergis.Sementara praktik spesifik Pertanian Organik dapat diterapkan dalam sistem pertanian konvensional, potensi kombinasi penuh antara mitigasi dan adaptasi dalam pertanian hanya terwujud dengan pendekatan sistemik yang dipraktikkan dalam Pertanian Organik.Berbeda dengan saran lain untuk peningkatan mitigasi di bidang pertanian, pertanian organic secara optimal mengintegrasikan mitigasi dan adaptasi. IPCC juga menempatkan pentingnya pada integrasi itu.
Pembentukan kembali pertanian di era perubahan iklim memerlukan investasi lebih banyak untuk sumber daya, penelitian dan pelatihan, penyediaan dukungan kebijakan yang tepat, termasuk menerapkan nasional, regional dan rencana aksi internasional mengenai Pertanian Organik.

Pertanian Organik Mencegah Perubahan Iklim

Pertanian Organik mengurangi gas rumah kaca, terutama nitro oksida, karena tidak menggunakan pupuk nitrogen kimia dan kehilangan nutrisi dapat diminimalkan. Pertanian Organik juga menyimpan karbon di dalam tanah dan biomassa tanaman dengan membangun bahan organik, mendorong agro-forestry dan melarang pembersihan ekosistem utama. Pertanian Organik meminimalkan konsumsi energi hingga 30-70% per unit tanah dengan menghilangkan energi yang dibutuhkan untuk memproduksi pupuk buatan, dan dengan menggunakan input pertanian internal, sehingga mengurangi bahan bakar yang digunakan untuk transportasi.

Pertanian Organik Membantu Petani Beradaptasi dengan Perubahan Iklim
Pertanian organik mencegah hilangnya nutrisi dan air melalui tingginya kandungan bahan organik dan perlindungan tanah, sehingga tanah lebih tahan terhadap banjir, kekeringan dan proses degradasi tanah. Pertanian Organiki melestarikan benih dan keanekaragaman tanaman yang meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit. Pemeliharaan keanekaragaman hayati juga membantu petani berevolusi sistem tanam baru untuk beradaptasi dengan perubahan iklim. Ini mengurangi risiko karena agro-ekosistem dan hasil stabil, serta biaya produksi yang lebih rendah.
Pertanian Konvensional Berkontribusi pada Perubahan Ikim
Pertanian Konvensional menggunakan pupuk dan pestisida buatan yang memerlukan sejumlah besar energi untuk memproduksi nya.Dalam praktiknya menggunakan pupuk nitrogen berlebihan yang melepaskan nitro oksida. Pertanian konvensional menerapkan penanganann peternakan yang intensif  sehingga menimbulkan pupuk dan  metana berlebih. Untuk kebutuhan pakan ternak berbahan dasar kedelai , memerlukan jumlah bahan bakar besar untuk perjalanan ribuan kilometer untuk mencapai peternakan. Praktik intensif ini juga memerlukan nutrisi tanah besar untuk mempertahankan produksi sehingga mengarah pada pembukaan hutan dengan "tebang dan bakar", teknik yang mengurangi penyimpanan karbon dan melepaskan sejumlah besar karbon dioksida dari pembakaran vegetasi.

Thursday, July 8, 2010

Nafas Bumi: Putaran Karbon Ekosistem Daratan


Dua penelitian internasional baru-baru ini melihat hubungan penting antara iklim bumi dan siklus karbon. Laporan penelitian ini mengeksplorasi fotosintesis global dan tingkat respirasi -pernafasan karbondioksida planet, ke dalam dan keluar.
Kedua laporan dipublikasikan secara online oleh jurnal Science di situs Science Express Web pada 18:00, AS, ET, Senin 5 Juli.Science diterbitkan oleh AAAS, masyarakat ilmu pengetahuan nirlaba.
Cristian Beer dari Institut Max Planck untuk Biogeokimia di Jena, Jerman, bersama dengan rekan-rekan dari 10 negara lain di seluruh dunia, pertama melihat Produksi Bruto Primer Bumi (Earth's Gross Primary Production atau GPP), yang merupakan jumlah karbondioksida dimana tanaman daratan (terrestrial) bernapasmelalui fotosintesis setiap tahun. Dengan kombinasi baru dari pengamatan dan pemodelan, mereka memperkirakan jumlah karbon yang tanaman hirup di dunia setiap tahunnya adalah 123.000.000.000 ton metrik.
Kemudian, Miguel Mahecha, juga dari Institut Max Planck untuk Biogeokimia, dan tim peneliti internasional lain menyelesaikan perdebatan yang panjang atas efek variasi jangka pendek dalam suhu udara pada respirasi ekosistem, atau pernafasan karbondioksida bumi kembali ke atmosfer. Mereka menunjukkan bahwa sensitivitas respirasi ekosistem untuk variasi suhu jangka pendek adalah sama di seluruh dunia. Para peneliti juga menunjukkan faktor lain selain suhu, seperti perlambatan, yang sedang berlangsung dalam tanah dan, tampaknya memainkan peran penting dalam keseimbangan ekosistem karbon jangka panjang.
Temuan ini memberikan pencerahan pada siklus karbon global ke dalam dan keluar dari atmosfer dan bagaimana proses-proses yang digabungkan dengan iklim bumi terus berubah. Para peneliti menganalisis sejumlah besar data iklim dan karbon dari seluruh dunia, dan menurut mereka hasilnya akan membantu meningkatkan validitas model prediksi dan membantu menyelesaikan bagaimana perubahan iklim dapat mempengaruhi siklus karbon dan dunia di masa depan.
"Sebuah pemahaman tentang faktor-faktor yang mengontrol GPP berbagai ekosistem daratan penting karena kita manusia menggunakan layanan ekosistem, seperti kayu, serat, dan makanan," kata Beer. "Selain itu, pemahaman penting dalam konteks perubahan iklim sebagai akibat dari emisi karbondioksida dari pembakaran bahan bakar fosil karena vegetasi sangat mempengaruhi perubahan gas rumah kaca tanah, air, dan karbondioksida ..."
Dalam laporan mereka, Beer dan rekan-rekannya mengumpulkan sebagian besar data dari FLUXNET, inisiatif internasional yang didirikan lebih dari 10 tahun yang lalu untuk memonitor pertukaran karbondioksida antara ekosistem bumi dan atmosfer, dengan penginderaan jarak jauh dan data iklim dari seluruh dunia untuk menghitung distribusi spasial rata-rata tahunan GPP antara tahun 1998 dan 2006.
Para peneliti menyoroti fakta bahwa penyerapan karbondioksida yang paling menonjol di hutan tropis planet, yang bertanggung jawab atas 34 persen penuh dengan menghirup karbon dioksida dari atmosfer. Kemudian sabana dengan perhitungan 26 persen dari serapan global, meskipun catatan peneliti bahwa sabana juga menempati dua kali luas permukaan hutan tropis.
Para peneliti menemukan bahwa pengendapan juga memainkan peran penting dalam menentukan penyerapan karbondioksida kotor dunia.Mereka melihat curah hujan memiliki pengaruh signifikan pada jumlah karbon yang tanaman manfaatkan untuk fotosintesis di lebih dari 40 persen dari tanah tumbuhan, sebuah penemuan yang menekankan pentingnya ketersediaan air untuk ketahanan pangan. Menurut penelitian ini, model iklim sering menunjukkan variasi yang besar.
"Kami mencapai sebuah tonggak sejarah dalam penelitian ini dengan menggunakan banyak data dari FLUXNET selain penginderaan jauh dan reanalisis iklim," kata Beer. "Dengan estimasi GPP global, kita bisa melakukan dua hal-membandingkan hasil kami dengan sistem bumi dan menganalisis lebih lanjut hubungan antara GPP dan iklim."
Dalam studi kedua, Mahecha dan tim peneliti juga bergantung pada kolaborasi global dalam jaringan FLUXNET selama penyelidikan ekosistem mereka sensivitas untuk suhu udara. Kompilasi dan analisis data dari 60 situs FLUXNET berbeda, para peneliti menemukan bahwa sensitivitas pernafasan pada suhu ekosistem di dunia, biasanya disebut sebagai Q10, sebenarnya cukup diatur dalam batu dan bahwa nilai Q10 tidak tergantung pada suhu rata-rata lokal dan kondisi ekosistem tertentu.
Selama bertahun-tahun, para ahli masih memperdebatkan pengaruh suhu udara pada respirasi global, atau proses organisme metabolik kolektif yang mengembalikan karbondioksida dari permukaan bumi ke atmosfer. Sebagian besar studi empiris menunjukkan bahwa respirasi ekosistem di seluruh dunia sangat sensitif meningkatkan suhu, sedangkan sebagian besar model prediksi menunjukkan sebaliknya.Para ilmuwan mengatakan bahwa suhu udara global akan naik karena adanya penjebakan panas karbondioksida dari pembakaran bahan bakar fosil. Namun, hasil baru menunjukkan bahwa sensitivitas suhu pernafasan alami karbon dioksida dari ekosistem telah berlebihan dan harus dievaluasi ulang.
Penelitian terbaru, dalam menyelesaikan kontroversi tersebut, menunjukkan bahwa studi lapangan sebelumnya gagal untuk menguraikan proses yang bekerja pada skala waktu yang berbeda-.Mahecha dan timnya mempertimbangkan proses dari 60 ekosistem yang berbeda pada skala waktu yang sama untuk rata-rata global Q10 nilai 1.4.
"Temuan utama kami adalah bahwa sensitivitas suhu jangka pendek respirasi ekosistem dengan suhu udara konvergen ke nilai tunggal global," kata Mahecha. "Bertentangan dengan studi sebelumnya, kami menunjukkan bahwa sensitivitas respirasi ekosistem untuk variasi suhu tampaknya terlepas dari faktor eksternal dan konstan di seluruh ekosistem. Dengan kata lain, kita menemukan hubungan umum antara variasi suhu dan respirasi ekosistem ... Temuan kami jelas mendamaikan kontradiksi permodelan dan studi lapangan."
Di masa depan, dua studi terpisah ini harus memungkinkan untuk memprediksi lebih tepat tentang bagaimana pemanasan iklim bumi akan mempengaruhi pertukaran karbon antara ekosistem dan suasana sebaliknya. Mereka memberikan para ilmuwan alat penting untuk memahami lebih baik ekosistem dunia dan bagaimana umat manusia terus mempengaruhi dan mengubah mereka.
Sumber: http://www.aaas.org/news/  dan Berita Bumi

Kurangi Pencemaran Air: Manfaatkan Lerak sebagai Bahan Pencuci Pengganti Ditergen



Pencemaran sungai di Jakarta dari tahun ke tahun semakin tinggi. Sebanyak 13 sungai di Jakarta tercemar akibat buangan domestik dan industri. Data dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi DKI Jakarta pada 2006 menunjukkan pencemaran air sungai mencapai 78% yang tergolong pencemaran berat (www.republika.co.id, 9 April 2010).
Limbah cair yang berasal dari rumah tangga ternyata menjadi penyumbang terbesar menurunnya kualitas air di wilayah DKI Jakarta. Dari keseluruhan jumlah air buangan di Jakarta yang mencapai 1.316.113 meter per kubik, 75 persen berasal dari limbah rumah tangga (www.korantempo.com, 14 Oktober 2004).
Deterjen merupakan limbah rumah tangga yang paling potensial mencemari air. Pada saat ini hampir setiap rumah tangga menggunakan deterjen, padahal limbah deterjen sangat sukar diuraikan oleh bakteri. Sehingga tetap aktif untuk jangka waktu yang lama. Penggunaan deterjen secara besar-besaran juga meningkatkan senyawa fosfat pada air sungai atau danau. Fosfat ini merangsang pertumbuhan ganggang dan eceng gondok. Pertumbuhan ganggang dan eceng gondok yang tidak terkendali menyebabkan permukaan air danau atau sungai tertutup sehingga menghalangi masuknya cahaya matahari dan mengakibatkan terhambatnya proses fotosintesis.
Jika tumbuhan air ini mati, akan terjadi proses pembusukan yang menghabiskan persediaan oksigen dan pengendapan bahan-bahan yang menyebabkan pendangkalan (www.bplhdjabar.go.id).
Melihat dampak penggunaan detergen yang sulit terurai oleh bakteri dan mencemari air, maka penggunaannya selayaknya dikurangi. Dengan pemanfaatan produk-produk alami yang berfungsi sama dengan detergen, maka pencemaran air bisa dihindarkan. Salah satunya dengan menggunakan lerak.
Lerak, Bahan Pencuci Alami
Tumbuhan lerak berbentuk pohon dan rata-rata memiliki tinggi.10 m walaupun bisa mencapai 42 meter dengan diameter 1 m, karenanya pohon lerak besar dengan kualitas kayu yang setara kayu jati banyak ditebang karena memiliki nilai ekonomis. Bentuk daunnya bulat-telur berujung runcing, bertepi rata, bertangkai pendek dan berwarna hijau. Biji terbungkus kulit cukup keras bulat seperti kelereng, kalau sudah masak warnanya coklat kehitaman, permukaan buah licin dan mengkilat (http://id.wikipedia.org/wiki/Lerak).
Biji lerak mengandung saponin, suatu alkaloid beracun. Saponin inilah yang menghasilkan busa dan berfungsi sebagai bahan pencuci, dan dapat pula dimanfaatkan sebagai pembersih berbagai peralatan dapur, lantai, bahkan memandikan dan membersihkan binatang peliharaan. Kandungan racun biji lerak juga berpotensi sebagai insektisida. Kulit buah lerak dapat digunakan sebagai pembersih wajah untuk mengurangi jerawat dan kudis.
Beberapa daerah penghasil lerak terbesar di Indonesia adalah Kediri, Banten, dan Madura. Setiap bulan Kediri mampu mengirim tiga ton (hasil produksi hutan-hutan setempat) ke berbagai industri. Kediri bahkan sanggup memasok enam ton lagi setiap bulan. Sebenarnya kita juga bisa memanfaatkan lerak untuk keperluan (keluarga) sendiri. Misalnya, untuk mencuci pakaian batik (www.suaramerdeka.com, 10 Juli 2009).
Berikut ini cara membuat larutan sari lerak sebagai bahan pencuci alami menurut Bibong Widyarti, seorang konsumen organik dalam bukunya “Hidup Organik, Panduan Ringkas Berperilaku Selaras Alam”:
-      100 gram buah lerak atau sekitar 20 buah lerak kering.
-      Biji keras di dalamnya dibuang, daging buah lerak disayat-sayat. Kemudian masak dengan air sebanyak 2 liter hingga mendidih selama 20 menit (air akan berbusa).
-      Diamkan hingga dingin dan disaring dengan kain halus, sehingga larutan terlihat jernih kecoklatan. Larutan ini dimasukkan dalam botol atau jerigen yang diberi label tanggal dan keterangan isi, disimpan di tempat yang teduh dan bisa bertahan kurang lebih 7 hari. Agar lebih beraroma segar, bisa ditambahkan sari minyak murni, seperti tea tree, mint, jeruk atau sari minyak murni lainnya yang disukai.
-      Larutan ini bisa untuk mencuci pakaian, baik dengan mesin cuci maupun tangan, akan tetapi tidak dianjurkan untuk bahan pakaian berwarna putih. Khusus untuk pakaian berwarna gelap, larutan inti lerak dicampur air dengan perbandingan 500 cc cairan inti lerak dengan 15 liter air di dalam mesin cuci (perkirakan volume air mesin cuci, saat diputar akan berbusa).
-      Saat membilas, bisa ditambahkan beberapa tetes sari minyak murni jeruk, tea tree, mint, atau nilam agar pakaian menjadi harum.
-      Untuk menghilangkan bau tak sedap dan melemaskan pakaian, bisa ditambahkan baking soda sebanyak 50 gram, atau cuka masak seperempat gelas (50 cc) pada air pembilasan terakhir.
-      Ampas lerak dari larutan ini juga bisa dimanfaatkan untuk mencuci panci yang berlemak, atau dimasukkan dalam komposter dapur.

Monday, July 5, 2010

IUCN: Keanekaragaman Hayati Global Terancam Punah


Meskipun menyadari betapa pentingnya keanekaragaman hayati untuk waktu yang lama, namun aktivitas manusia telah menyebabkan kepunahan besar-besaran. Seperti laporann Environment New Service pada bulan Agustus 1999 yang menyebutkan bahwa "tingkat kepunahan saat ini mendekati 1.000 kali dari sebelumnya dan mungkin naik sampai 10.000 kali pada abad berikutnya, jika kecenderungan ini terus berlangsung, akan mengakibatkan kerugian dan mempermudah kepunahan seperti yang terjadi pada masa lalu."
Sebuah laporan utama, Millennium Ecosystem Assessment, dirilis Maret 2005 juga menyoroti kerugian yang besar dari hilangnya keanekaragaman kehidupan di bumi, dengan 10-30% dari mamalia, jenis burung dan amfibi terancam punah, akibat tindakan manusia .International Union for Conservation of Nature (IUCN) mencatatdalam sebuah video banyaknya spesies yang terancam punah. Yaitu:
• 75% dari keanekaragaman genetik tanaman pertanian telah hilang.
• 75% dari perikanan dunia mengalami kelebihan eksploitasi.
• Sampai dengan 70% spesies di dunia terancam punah jika suhu global meningkat lebih  dari 3,5 ° C.
• 1/3 dari terumbu karang di seluruh dunia terancam punah. 
• Setiap detik sebidang hutan hujan tropis ukuran lapangan sepakbola menghilang.
• Lebih dari 350 juta orang mengalami kelangkaan air berat.

Di berbagai belahan dunia, spesies mengalami tingkat ancaman yang berbeda. Namun secara keseluruhan dari banyak kasus menunjukkan tren menurun.
Semua spesies dinilai dalam kategori terancam risiko kepunahan yang berbeda pada IUCN Red List, berdasarkan data dari 47.677 spesies (Sumber: IUCN, data kompilasi Sekretariat Konvensi Keanekaragaman Hayati, UNEP (2010) dalam Global Biodiversity Outlook 3, Mei 2010).
Sebagaimana dijelaskan dalam Global Biodiversity Outlook tersebut, tingkat hilangnya keanekaragaman hayati belum berkurang karena lima tekanan keanekaragaman hayati yang kuat bahkan intensif dari hilangnya habitat dan degradasi, perubahan iklim, beban zat berlebihdan bentuk lain dari polusi, over-eksploitasi dan pemanfaatan tidak berkelanjutan serta invasif spesies.
Sebagian besar pemerintah dunia melaporkan kepada Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati adanya tekanan yang mempengaruhi keanekaragaman hayati di negara mereka. IUCN menggunakan Red List untuk menilai status konservasi spesies, subspesies, varietas, dan bahkan sub-populasi yang dipilih dalam skala global.

Risiko kepunahan terjadi dari setiap langkah konservasi. Amfibi yang paling berisiko, sementara koral telah mengalami peningkatan dramatis dalam risiko kepunahan dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara itu penelitian jangka panjang tentang fosil menunjukkan bahwa kecepatan alam terbatas dalam pemulihan secara cepat setelah gelombang kepunahan. Maka, tingkat kepunahan yang cepat bisa memerlukan waktu lama untuk memulihkan alam.
Pertimbangan pengamatan dan kesimpulan para ahli dari berbagai instistusi yang diringkas oleh Jaan Suurkula, Ketua Dokter dan Ilmuwan untuk Aplikasi Tanggungjawab Ilmu dan Teknologi (Physicians and Scientists for Responsible Application of Science and Technology-PSRAST), mencatat bahwa dampak pemanasan global akan berpengaruh pada ekosistem dan keanekaragaman hayati.
Ekosistem Global Kolap
Situasi lingkungan dunia mungkin akan semakin buruk oleh cepatnya kepunahan spesies skala global. Ini terjadi pada abad ke-20 dimana tingkat yang seribu kali lebih tinggi daripada tingkat rata-rata selama 65 juta tahun sebelumnya. Hal ini mungkin mengguncang berbagai ekosistem termasuk sistem pertanian.
Dalam kepunahan yang lambat, berbagai mekanisme menyeimbangkan dapat berkembang. Namun tak seorang pun tahu apa akibat dari laju kepunahan yang sangat cepat. Apa yang terjadi dengan sistem ekologi yang telah terjaga dalam keseimbangan yang sangat kompleks dan beragam antara sebagian besar spesies. Kepunahan cepat ini dapat menimbulkan ekosistem skala global kolap. Hal ini diperkirakan akan menimbulkan masalah pertanian skala besar, mengancam persediaan makanan untuk ratusan juta orang. Prediksi ekologi ini tidak mempertimbangkan dampak dari pemanasan global yang selanjutnya akan memperburuk situasi.
Industri perikanan telah memberikan kontribusi penting pada kepunahan massa akibat gagal  membatasi penangkapan. Sebuah studi global yang baru menyimpulkan bahwa 90 persen dari semua ikan besar telah menghilang dari lautan di dunia dalam setengah abad terakhir, hasil penghancuran dari industri penangkapan ikan.Penelitian selama 10 tahun ini telah selesai dan diumumkan dalam jurnal internasional Nature. Penelitian ini melukiskan gambaran suram tentang populasi spesies bumi saat ini seperti ikan hiu, ikan pedang, ikan tuna dan marlin.
Hilangnya ikan predator mungkin menyebabkan ketidakseimbangan beberapa ekologi laut yang kompleks. Penyebab lain kepunahan ikan secara ekstensif adalah kerusakan terumbu karang. Hal ini disebabkan oleh kombinasi dari penyebab, termasuk pemanasan samudera, kerusakan dari alat tangkap dan infeksi yang membahayakan organisme karang akibat polusi laut. Kondisi ini akan memerlukan waktu ratusan ribu tahun untuk mengembalikan apa yang sekarang sedang hancur dalam beberapa dekade.
Menurut studi paling komprehensif yang dilakukan selama ini dalam bidang ini, lebih dari satu juta spesies akan hilang dalam 50 tahun mendatang. Penyebab paling penting adalah perubahan iklim. Studi yang dipresentasikan di atas hanya mencakup masalah paling penting yang membakar lingkungan global. Ada beberapa tambahan, terutama di bidang polusi kimia yang berkontribusi merusak lingkungan atau mengganggu keseimbangan ekologi.
Selain itu, seperti yang dilaporkan oleh UC Berkeley, menggunakan perbandingan DNA, para ilmuwan telah menemukan apa yang mereka telah sebut sebagai "konsep evolusi paralelisme, sebuah situasi dimana dua organisme independen muncul dengan adaptasi yang sama dengan lingkungan tertentu." Ini memiliki percabangan tambahan ketika akan melindungi keanekaragaman hayati dan spesies terancam punah.
Sumber Info :