Search for Green

Monday, May 9, 2011

Bukti-Bukti Kehidupan Awal Bumi Ada di Bulan

Saat Bumi dibombardir asteroid dan meteor banyak material dan bebatuan terlempar ke bulan.


Batu-batuan yang berasal dari planet Bumi terlempar ke Bulan saat asteroid membombardir Bumi dan inner planet (planet paling dekat dengan Matahari) lainnya. (starryskies.com)

VIVAnews - Mengetahui bagaimana kehidupan dimulai di planet Bumi adalah salah satu target utama ilmu pengetahuan. Sejumlah peneliti asal Inggris memiliki teori baru. Mereka yakin kunci untuk mengetahui misteri bentuk kehidupan awal di Bumi justru berada di bulan.

Peneliti menyebutkan, batu-batuan yang berasal dari planet Bumi terlempar ke bulan saat asteroid membombardir Bumi dan inner planet (planet paling dekat dengan Matahari) lainnya.

Sebagai informasi, sekitar 4 miliar tahun lalu, terjadi fenomena hujan meteor yang disebut sebagai Late Heavy Bombardment. Ketika itu, planet Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars dihujani oleh ribuan asteroid dan meteorit yang menghantam permukaan planet.

Fenomena sangat mengerikan yang berlangsung selama 300 juta tahun itu memiliki efek beragam pada planet-planet yang ketika itu masih muda, salah satunya adalah pelontaran miliaran ton material dari permukaan planet ke luar angkasa.

Pada kasus Bumi, sebagian material itu kemungkinan berhasil tiba di Bulan. Hipotesis ini sangat masuk akal, mengingat di kutub selatan Bumi pernah dijumpai meteorit yang terbukti berasal dari planet Mars.

Untuk itu, sangatlah mungkin berasumsi bahwa planet-planet terdalam saling bertukar material saat Late Heavy Bombardment. Demikian pula dengan Bumi dan Bulan yang juga saling bertukaran material.

Menurut sejumlah pakar dari University of London Birkbeck College School of Earth Sciences, material milik Bumi itu telah mendarat di Bulan dengan mulus sehingga memungkinkan tanda-tanda biologis tetap tersimpan dengan baik.

Dikutip dari Softpedia, 5 Mei 2011, tim peneliti yang diketuai oleh Ian Crawford dan Emily Baldwin menyebutkan, tanda-tanda biologi itu justru tidak akan mampu bertahan di Bumi karena besarnya dampak tumbukan meteor, erosi akibat angin dan hujan, aktivitas volkanik, gempa bumi, dan penguasaan habitat oleh spesies makhluk hidup lain.

Dalam sejumlah simulasi komputer, tim peneliti menunjukkan sebongkah material yang terpental ke arah Bulan akibat tumbukan asteroid pada bumi akan mendarat di permukaan Bulan dengan kecepatan 2,5 kilometer per detik atau kurang. Dengan temperatur yang ada di Bulan, tidak ada bagian dari material itu yang mendekati tekanan puncak yang mengakibatkan material itu meleleh.

Sayangnya, teori baru ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah sampai manusia kembali pergi ke Bulan, mengumpulkan sampel bebatuan dari sejumlah lokasi, dan membawa pulang ke Bumi untuk dianalisa secara mendalam. Namun, melakukan penelitian seperti itu akan memberikan kita pengetahuan yang luar biasa akan sejarah kehidupan di planet Bumi. (adi)
• VIVAnews

NASA Buktikan Teori Relativitas Einstein

"Saat bumi berotasi, madu di sekitarnya membentuk pusaran, begitu pula ruang dan waktu."

Ilustrasi satelit (NASA)


VIVAnews - Alat pengukur gravitasi milik Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, berhasil membuktikan dua asumsi kunci yang dicetuskan Albert Einstein dalam teori relativitas. Teori ini dicetuskan oleh Einstein pada 52 tahun yang lalu.
Misi The Gravity Probe-B (GP-B) diluncurkan pada tahun 2004 untuk mempelajari dua asumsi Einstein. Pertama, mengenai efek geodesi, atau adanya lengkungan ruang dan waktu di sekitar gravitasi. Kedua, asumsi mengenai frame-dragging, yang menjelaskan jumlah struktur ruang-waktu yang terpilin akibat rotasi suatu massa.    
"Bayangkan bumi seakan-akan terbenam di benda seperti madu," kata Francis Everitt, peneliti Stanford University yang juga peneliti utama GP-B. "Ketika bumi berotasi, madu di sekitarnya akan membentuk pusaran yang mengikuti (swirl), begitu pula dengan ruang dan waktu," demikian analogi Everitt.
Gravity Probe-B menggunakan empat gyroscope (pengukur orientasi) dengan tingkat ketepatan ultra tinggi untuk mengukur dua hipotesa gravitasi ini. Alat ini kemudian mengkonfirmasi kedua efek gravitasi dengan mengarahkan alat ini ke bintang yang disebut IM Pegasi, untuk menciptakan presisi yang netral.
Jika gravitasi tidak berdampak terhadap ruang dan waktu, maka gyroscope GP-B akan menunjuk ke arah yang sama saat probe itu berada di kutub orbit sekitar bumi. Bagaimana pun, gyroscopes memiliki perubahan kecil tapi terukur terhadap arah putaran daya tarik bumi.
"Hasil misi ini akan memiliki dampak jangka panjang terhadap teori yang dimiliki ahli fisika," kata Bill Danchi, ahli antrofisika dan pengamat di Markas Nasa di Washington.
"Setiap teori yang meragukan teori Einstein dalam hal relativitas umum akan mencoba untuk mencari hasil pengukuran yang tepat dari yang telah dilakukan GP-B," lanjut Danchi.
Hasil ini menjadi proyek terpanjang yang dilakukan NASA, yang telah terlibat dalam penelitian gyroscope untuk relativitas sejak 1963.   
Penelitian dan percobaan yang dilakukan selama berpuluh tahun ini telah merintis teknologi untuk mengendalikan gangguan yang bisa mempengaruhi pesawat ulang-alik, seperti daya tarik aerodinamis, medan magnet, dan variasi hawa panas. Lebih jauh, misi pelacak bintang dan gyroscope NASA merupakan alat dengan presisi tertinggi yang pernah didesain dan diproduksi.   

• VIVAnews

Biopori dan Kompos untuk Menjaga Kualitas Tanah dan Lingkungan Hidup

Aliansi Organis Indonesia - 10 Nov 2010



Saat ini sebagian besar dari manusia seakan telah lupa adanya kehidupan di tanah. Seperti tumbuhan, hewan dan manusia, makhluk hidup di dalam tanah ini juga memerlukan oksigen, air dan nutrisi lainnya. Namun banyak dari manusia tidak menyadari atau melupakannya dengan melakukan aktivitas hidup yang tidak memperhatikan kepentingan makhluk hidup di dalam tanah.
“Seringkali kita menutup tanah dengan bangunan, jalan beraspal dan semen. Kondisi ini akan mengakibatkan pori-pori tanah tertutup dan berkurang, sementara bangunan mempengaruhi tanah. Akibatnya tanah menjadi turun dan retak, seperti beberapa kejadian di Jakarta,” kata Kamir Brata dari Institut Pertanian Bogor (IPB) saat pelatihan pembuatan biopori dan kompos di “Indonesia Organic and Green Fair 2010,” Lapangan Taman Koleksi, Kampus IPB Baranangsiang, Bogor, Jawa Barat (7/11).
Ketika tanah ditutup, oksigen, air dan nutrisi tidak bisa menyerap dalam tanah dan menimbulkan tanah tidak subur. Makhluk hidup dalam tanah tidak mendapat makanan, air dan oksigen.  Selain itu air hujan juga tidak bisa terserap dalam tanah dan tergenang menimbulkan banjir.
“Perlu upaya agar kondisi ini tidak semakin parah dan makhluk hidup dalam tanah bisa kembali hidup,” kata Kamir Brata.
Caranya menurut Kamir, dengan membuat biopori, mengolah sampah organik (basah) menjadi kompos dan mengurangi sampah anorganik (kering) yang bisa menghambat penguraian taupun peresapan air dan nutrisi dalam tanah. Lubang biopori sangat penting untuk menyerap dan menampung air tanah kembali dan juga untuk menjaga kualitas lingkungan hidup.
Lubang biopori bisa dibuat dengan alat bor di halaman rumah yang masih ada. Ukuran diameter biopori ini 10 cm dan kedalaman 1 meter. Agar air mudah masuk ke dalam lubang biopori, perlu dibuat alur-alur ke arah lubang biopori. Besar dan dalamnya secukupnya agar air mudah mengalir ke lubang biopori.
Selain bisa menampung dan menyerap air, lubang biopori juga bisa diisi dengan sampah organik sehingga bisa menjadi kompos. Usahakan sampah anorganik tidak masuk ke dalam lubang biopori karena akan menghambat proses penyerapan air atupun pengolahan sampah organik menjadi kompos.
Pengomposan Metode Takakura
Membuat kompos dari sampah organik skala rumah tangga juga bisa dilakukan dengan metode takakura yang berasal dari Jepang. Menurut Daniel Mangoting dari Ellsppat, bahan-bahan yang diperlukan dalam pengomposan metode takakura yaitu keranjang dari bahan plastik polypropilen (agar tidak bereaksi dengan sampah dan menimbulkan zat-zat yang tidak baik dalam kompos), pelapis keranjang berupa kardus atau karung goni, bantal dari gabah padi diletakkan di dasar keranjang yang sudah berlapis kardus atau karung goni.
Fungsi dari bantal di dasar keranjang ini untuk menjaga kelembapan dan fungsi keranjang yang berlubang kecil-kecil agar tetap ada sirkulasi udara keluar masuk keranjang dimana proses pengomposan berlangsung.
Lalu masukkan biang kompos (kompos yang belum jadi) ke dalam keranjang yang sudah dilapisi kardus (karung goni) dan dasarnya ada bantal dari gabah padi hingga ketinggian ¾ keranjang. Buat rongga-rongga dalam biang kompos yang sudah masuk. Setelah itu masukkan sampah organik yang sudah dipotong kecil-kecil, tutup dengan biang kompos lagi dan bantal gabah padi. Lalu di atas bantal ditutup dengan penutup keranjang yang sudah dilapisi dengan kain.
Tutup keranjang dilapisi kain agar serangga dan lalat tidak bisa masuk ke dalam keranjang. Hari berikutnya pada pagi hari, sampah dalam keranjang bisa diaduk dan dimasukkan lagi potongan sampah berikutnya. Ditutup lagi dengan biang kompos, bantal dan penutup keranjang.
Setelah 2-3 hari di atas pengomposan akan terasa panas yang menandakan proses pengomposan berhasil. Juga terjadi penyusutan volume sampah dalam proses pengomposan metode takakura ini. Setelah dua bulan, kompos bisa dipanen dan digunakan untuk pemupukan.

Saturday, March 26, 2011

Langkah sederhana dukung "Earth Hour" 2011




Jakarta (13/03)- Kampanye perubahan iklim global yang diinisiasi WWF, Earth Hour akan kembali digelar. Tahun ini adalah tahun ketiga pelaksanaan Earth Hour di Indonesia. Inisiatif ini mengajak individu, komunitas, praktisi bisnis, dan pemerintahan di seluruh dunia untuk mematikan lampu dan peralatan elektronik yang tidak dipakai selama satu jam.
Earth Hour 2011 jatuh pada hari Sabtu 26 Maret 2011 pukul 20.30-21.30. Selain mengajak warga dunia untuk mematikan lampu secara sukarela pada waktu tersebut, kampanye Earth Hour kali ini juga bertujuan mendorong perubahan gaya hidup. Pesan kampanye Earth Hour2011 tersebut direpresentasikan lewat simbol 60 +.
Pada intinya, kampanye ini bertujuan untuk mengingatkan setiap individu bahwa bergaya hidup hemat energi tidak cukup hanya dengan berpartisipasi di Earth Hour saja, lebih jauh lagi, aksi sederhana itu harus pula diikuti dengan perilaku sehari-hari untuk secara efektif mengurangi gas rumah kaca serta menerapkan gaya hidup ramah lingkungan.
Sebagai wujud partisipasi Anda pada Earth Hour 2011, berikut tujuh langkah sederhana yang dapat Anda lakukan:
  1. Daftarkan dukungan dan partisipasi Anda di http://www.wwf.or.id/earthhour. Melalui petisi global ini, Anda secara tertulis menyatakan komitmen untuk berpartisipasi mematikan lampu selama satu jam saat Earth Hour serempak dilaksanakan.
  2. Ikut membantu menyerbarluaskan informasi tersebut ke jejaring Anda. Unduh materi kampanye Earth Hour 2011 di http://www.earthhour.wwf.or.id/download2011.php
  3. Bergabung bersama pendukung EARTH HOUR di seluruh Indonesia di:
  4. Mematikan lampu dan peralatan elektronik lainnya pada Sabtu, 26 Maret 2011 pukul 20.30-21.30
  5. Aktif memposting artikel Anda di blog Earth Hour: http://earthhour.wwf.or.id/post_article.php
  6. Kreasikan lampion “Earth Hour” Anda seraya menyebarkan pesan lingkungan. Kunjungi tautan berikut:http://www.earthhour.org/kids/MakeALantern.aspx
  7. Unggah foto dan video momen Earth Hour Anda di flickr dan YouTube Earth Hour Indonesia, dengan mengirimkannya ke: earthhourindonesia@gmail.com
Jadi bagian dari aksi global untuk perubahan iklim.
“Matikan lampu pada 26 Maret 2011 selama satu jam, pukul 20.30-21.30...
Setelah satu jam, jadikan gaya hidup.”

Matikan 2 Lampu Saat Earth Hour, Hemat Listrik 300 Megawatt






Jakarta - WWF, organisasi konservasi terbesar di dunia kembali mengajak publik di seluruh belahan bumi untuk menghemat energi dengan mematikan lampu melalui gerakan Earth Hour, Sabtu 26 Maret 2011.

Ya, kita hanya diminta mematikan lampu yang tidak diperlukan selama satu jam. Jangan anggap enteng, meski tindakan ini 'kecil' namun jika dilakukan secara massal, akan membuat kehidupan di bumi menjadi lebih baik lho! Sesuai dengan tagline yang digaungkan Earth Hour, tindakan kecil dapat membuat perubahan besar.

Koordinator Kampanye Program Iklim dan Energi WWF Indonesia Verena Puspawardani menyebutkan, di Indonesia, Jakarta menjadi target utama Earth Hour. Pasalnya, sebagai ibukota negara, konsumsi energi listrik tanah air terfokus di wilayah ini.

"Jika 10 persen warga Jakarta mematikan dua buah lampu saja selama satu jam, bisa menghemat listrik sekitar 300 megawatt. Jumlah ini setara dengan listrik untuk menyalakan 900 desa atau mengurangi emisi sekitar 267 ton CO2," sebutnya. 

Di Jakarta, ada sekitar 400 pengelola gedung yang akan mematikan lampunya selama satu jam. Wilayah itu antara lain kawasan Monas, Istana Negara, dan Bundaran HI.

Selain Jakarta, kota-kota lain yang turut berpartisipasi dalam Earth Hour 2011, adalah Yogyakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Malang dan Bali.

Diharapkan, gerakan ini tak hanya berhenti pada Earth Hour saja, namun bisa mengubah gaya hidup masyarakat agar cerdas dalam menghemat energi.

Tentunya, Anda bisa melakukannya. Yuk, berpatisipasi dalam Earth Hour. Jangan lupa, matikan lampu pada 20.30-21.31!

Saturday, March 12, 2011

Reaktor Meledak, Jepang Waspada Ancaman Radiasi Nuklir


Reaktor Meledak, Jepang Waspada Ancaman Radiasi Nuklir
(Reuters TV)

Tokyo - Pasca meledaknya reaktor nuklir nomor 1 di Fukushima, bahaya radiasi mengancam warga Jepang. Meskipun warga dengan radius 10 km telah dievakuasi, namun otoritas setempat tetap mengimbau semua warga untuk tetap di dalam rumah dan menghindari keluar tanpa menutupi kulit.

Seperti dilansir oleh AFP, Sabtu (12/3/2011), ledakan pada reaktor nuklir dan asap yang mengepul keluar dari reaktor dikhawatirkan menyebarkan bahaya radioaktif melalui udara.

Melalui stasiun televisi setempat, masyarakat Jepang diminta untuk tetap di rumah, mematikan AC dan tidak meminum air langsung dari keran. Hal ini untuk menghindari ancaman kontaminasi radioaktif.

Bagi warga yang hendak keluar rumah, pemerintah mengimbau mereka untuk mengenakan jaket dan baju yang menutupi seluruh tubuh, termasuk juga mengenakan masker dan handuk basah.

Zona evakuasi pun diperluas dari sebelumnya 10 km dari reaktor menjadi 20 km. Warga-warga yang masuk dalam zona itu akan dievakuasi.

Diketahui bahwa ledakan pada salah satu reaktor nuklir di Fukushima terjadi pada sekitar pukul 15.30 waktu setempat. Reaktor terbakar hebat dan asap pekat pun langsung membumbung tinggi ke angkasa. Bangunan reaktor dilaporkan hancur akibat ledakan.

Pihak operator Tokyo Electric Power Co (Tepco) membenarkan ledakan ini. Mereka juga menyatakan bahwa atap bangunan reaktor nuklir telah runtuh.

Tepco juga membenarkan bahwa 4 orang pekerjanya menjadi korban ledakan ini. Namun, disebutkan bahwa luka yang dialami tidak begitu parah. Keempatnya masih berhasil selamat.

Sementara itu, tangan kanan Perdana Menteri Naoto Kan, Sekretaris Kabinet Jepang, Yukio Edano dalam sebuah konferensi pers menyatakan bahwa pihaknya telah mengirimkan tim penyelamat hiper dari Pemadam Kebakaran Tokyo langsung ke lokasi ledakan.

Edano mengatakan, pemerintah tengah mengambil langkah-langkah darurat terkait hal ini. Di samping, juga mengumpulkan yodium, yang bisa digunakan untuk melawan penyakit radiasi.

Edano menambahkan, pemerintah tengah melakukan upaya investigasi untuk mengatasi dampak ledakan ini. "Kami tengah menyelidiki penyebab dan juga situasinya, kami akan mengungkapkannya kepada publik setelah ada informasi lebih lanjut," ujar Edano seperti dilansir Reuters.

Gempa Jepang 8,9 SR dan Fenomena Supermoon

Gagah Wijoseno - detikNews

Gempa Jepang 8,9 SR dan Fenomena Supermoon


Jakarta - Gempa dahsyat di Jepang terjadi setelah muncul spekulasi tentang efek dari fenomena Supermoon. Supermoon adalah fenomena bulan terlihat sangat besar di langit karena berada dalam posisi terdekatnya dengan bumi selama 18 tahun terakhir.

Sehari sebelum gempa Jepang terjadi, ada sebagian orang yang mencoba mengaitkan fenomena Supermoon dengan kemungkinan adanya 'kekacauan di bumi'. Teori konspirasi yang beredar di internet menyebutkan Supermoon bisa memicu kemunculan gelombang tinggi, gempa bumi, dan gunung meletus.

Seperti yang diberitakan thesun.co.uk, Sabtu (12/3/2011), pada tanggal 19 Maret bulan hanya berjarak 221.567 mil dari bumi dan peneliti amatir sudah memprediksikan munculnya kondisi ekstrim di bumi.

Blogger Daniel Vogler dalam tulisannya di AccuWeather mengungkapkan fakta kalau terakhir kali fenomena Supermoon muncul pada 10 Januari 2005, hampir 2 minggu setelah gempa dahsyat 9.0 SR yang meluluhlantakkan Aceh. "Jadi waspadalah, sesuatu yang 'besar' bisa terjadi saat-saat ini," ujar Vogler.

Supermoon terjadi pada tahun 1955, 1974, 1992, dan 2005. Dan pada tahun-tahun itu kondisi cuaca sangat ekstrem.

Sementara itu, ahli lain tidak setuju kalau supermoon ada kaitannya dengan gempa Jepang. Prakirawan cuaca John Kettley mengatakan bulan tidak bisa menyebabkan aktivitas geologi, tetapi cuma gelombang tinggi.

"Jika gelombang tinggi dibarengi dengan cuaca buruk, paling-paling efeknya hanya terasa di daerah pesisir," terang Kettley.

Pengelola Pusat Internasional untuk Radio Astronomy, Pete Wheeler, menjelaskan tidak akan ada gempa atau gunung meletus jika memang sudah waktunya.

"Bumi hanya akan mengalami gelombang tinggi saat itu (Supermoon-red) terjadi," jelasnya.