Search for Green

Saturday, January 15, 2011

Peneliti Temukan Hewan Hidup Tanpa Oksigen

Temuan ini membuka kemungkinan adanya kehidupan di lingkungan bebas oksigen lainnya.

Loricifera, hewan serupa ubur-ubur yang tak butuh oksigen (wikipedia.org)

VIVAnews - Sekelompok peneliti laut dalam asal Italia dan Denmark menemukan hewan multiseluler yang melangsungkan seluruh hidupnya tanpa menghirup oksigen.

Kelompok peneliti itu menemukan tiga spesies Loricifera (hewan serupa ubur-ubur berukuran panjang kurang dari satu milimeter) di endapan cekungan L’Atalante, sebuah kawasan perairan asin tak beroksigen di kedalaman 3000 meter, dasar laut Mediterrania, atau laut tengah.

Ketika Antonio Pusceddu, peneliti dari Marche Polytechnic University, Italia, dan rekan-rekannya menemukan Loricifera tersebut, mereka memperkirakan bahwa hewan itu jatuh ke dasar laut setelah hewan itu mati.

“Kami kira sangatlah tidak mungkin mereka bisa hidup di sana,” kata Pusceddu, seperti dikutip dari Discovermagazine, 27 Desember 2010. Akan tetapi, dari uji coba yang dilakukan pada dua ekspedisi berikutnya, diketahui bahwa hewan yang ditemukan itu masih hidup.

Pusceddu menyebutkan, Loricifera memiliki cara adaptasi yang unik terhadap lingkungan bebas oksigen.

Hewan ini tidak memiliki mitochondria (sel yang mampu mengonversi oksigen menjadi energi seperti yang ada di seluruh sel hewan lainnya). Akan tetapi mereka menggunakan struktur yang menyerupai hydrogenosom, organ yang menggunakan mikroba untuk menghasilkan energi.

Yang menarik, temuan ini membuka kemungkinan adanya kehidupan hewan yang lebih kompleks di lingkungan keras bebas oksigen lainnya. Baik di Bumi ataupun di tempat-tempat lain.

Mammoth Akan Hidup Lagi?

Ahli dari Jepang akan melakukan kloning. Upaya ini pernah dilakukan pada 1990-an lalu.

Mammoth (www.champaignschools.org)

VIVAnews - Manfred atau Manny merupakan mammoth yang menjadi tokoh dalam film kartun 'Ice Age'. Seorang ilmuwan asal Jepang berniat menghidupkan 'Manny' di dunia nyata, dalam empat atau lima tahun mendatang dengan teknologi kloning.
Upaya kloning pernah dilakukan tahun 1990-an dengan memulihkan inti sel dari kulit dan otot mammoth yang ditemukan membeku di Siberia. Namun, upaya ini gagal karena sel-sel ini sudah terlalu rusak akibat dingin yang ekstrim.

Tahun 2008, sebuah teknik yang dikembangkan Teruhiko Wakayama dari Pusat Perkembangan Biologi Riken, berhasil mengkloning seekor tikus dari sel tikus lain yang sudah membeku selama 16 tahun.

Hal ini membawa kabar gembira para ahli yang ingin menghidupkan kembali hewan purbakala yang sudah punah 5000 tahun lalu itu. "Sekarang masalah teknik sudah teratasi. Yang kami butuhkan sekarang adalah sampel jaringan lunak dari mammoth yang membeku," kata seorang profesor asal Universitas Kyoto, Akira Iritani, seperti dilansir dari The Telegraph.

Iritani berniat menggunakan teknik Wakayama untuk mengidentifikasi inti sel mammoth, nenek moyang gajah itu. Inti ini kemudian akan dimasukkan ke dalam sel telur seekor gajah Afrika, yang akan bertindak sebagai ibu pengganti (surrogate mother) bagi si raksasa mammoth.

Iritani memperkirakan butuh waktu sekitar dua tahun sebelum ibu pengganti bisa 'disusupi' sel mammoth. Setelah itu diikuti 600 hari masa kehamilan.

Dia juga sudah mengumumkan perjalanannya ke Siberia untuk mencari mammoth yang membeku untuk kemudian memulihkan sampel kulit atau jaringan lunak. Dia membutuhkan sampel sebesar 3 centimeter persegi. Jika pencarian ini gagal, Iritani berniat meminta kepada ilmuwan Rusia untuk menyediakan sampel dari temuan mereka.

Dia mengakui saat ini tingkat kesuksesan usaha kloning sapi masih kecil, sekitar 30 persen. "Saya pikir, kami akan sukses dan seekor mammoth yang sehat akan lahir dalam empat atau lima tahun mendatang," kata Itirani optimis. (umi)

Thursday, January 13, 2011

400 Orang Daftar Misi Berani Mati ke Mars


Perjalanan dari Bumi ke Mars diperkirakan hanya makan waktu 10 bulan.


Ilustrasi permukaan Mars (fineartamerica.com)

VIVAnews - Planet Mars diproyeksi menjadi koloni manusia. Kelak, saat Bumi makin rusak dan tak bisa lagi dihuni. Untuk mewujudkan rencana itu, diperlukan sukarelawan yang berani menjadi perinti pertama di planet merah.

Perjalanan dari Bumi ke Mars diperkirakan hanya makan waktu 10 bulan, namun tak ada kesempatan untuk pulang.

Tak hanya menghadapi lingkungan Mars yang tak menentu, tanpa oksigen, tanpa air, sukarelawan juga harus siap menghadapi kondisi  keterasingan, jauh dari  Bumi dan manusia lainnya. Sebuah kondisi yang belum pernah  dihadapi sebelumnya dalam sejarah manusia.

Adakah orang yang nekat mengajukan diri untuk misi ke Mars? Ternyata ada.
Edisi khusus Journal Cosmology menjelaskan secara detil berapa dana yang dibutuhkan untuk sekali jalan ke Mars sekitar 20 tahun mendatang. Sebanyak 400 pembaca menawarkan diri menjadi sukarelawan.

Editor jurnal, Lana Tao mengaku terkejut dengan respon para pembaca. "E-mail yang berisi keinginan menjadi sukarelawan sangat mengejutkan. Awalnya kami mengira ini hanya gurauan, namun setelah menerima banyak surat elektronik yang dilengkapi kualifikasi personal, dan alasan mereka bergabung. Kami sadar, mereka serius," kata dia, seperti dimuat situs FoxNews.com.

Apa yang membuat orang-orang ini mau jadi sukarelawan ke Mars? "Aku punya keinginan untuk menjelajahi alam semesta sejak kecil, dan tahu persis seperti apa kerja roket," kata salah satu sukarelawan, Peter Greaves kepada FoxNews.com. Greaves adalah ayah dari tiga anak.

Greaves menambahkan, "Aku membayangkan kehidupan di Mars akan sangat menakjubkan, menakutkan, sepi, sempit, dan sibuk."

"Tak seperti di Bumi, aku tak bisa lagi duduk di tepi sungai, memandang takjub pemandangan alam, memeluk teman-temanku, menarik nafas dalam di udara yang segar. Tapi pengalamanku akan sangat berbeda dari 6 atau 7 miliar orang di Bumi...ini sepadan dengan apa yang kutinggalkan."

Juga ada di dalam daftar, programer komputer berusia 69 tahun, mahasiswa asal Texas, perawat berusia 45 tahun, pendeta Paul Gregersen, dan pastor Clarno Zion United Methodist Church.

Mereka menyatakan diri siap meninggalkan Bumi secara permanen.

"Sejalan dengan makin membludaknya manusia, satu-satunya hal yang masuk akal adalah mengeksplorasi kemungkinan manusia tinggal di tempat lain di alam semesta," kata pendeta Paul Gregersen.

"Aku punya firasat, masalah spiritual akan muncul di antara para kru. Para penjelajah awal di Bumi juga selalu membawa ulama."
Namun, psikolog yang bekerja untuk Badan Antariksa AS, NASA memperingatkan tak hanya persoalan spiritual yang akan dihadapi para perintis di Mars.

"Ini akan menjadi periode panjang keterisolasian dan kurungan," kata Albert Horrison yang telah mempelajari psikologis astronot sejak tahun 1970.

Ditegaskan dia, kehidupan di Mars tak akan seromantis yang dibayangkan. "Setelah suka cita peluncuran roket, dan sensasi menginjakkan kaki di Mars, akan sangat sulit untuk menghindari depresi. Semua hubungan dengan keluarga, teman, dan segala sesuatu yang akrab, terputus."

Setiap hari, tambah dia, akan berjalan membosankan. Meski dipersiapkan dan dibekali dengan baik dari Bumi, para kru tentu saja akan menghadapi permasalahan tak terduga, yang mungkin tak bisa diatasi.  "Satu per satu kru akan tua, sakit, lalu mati."

Horrison mengingatkan, harus ada dukungan publik dan juga politik dalam misi ini. Jika tidak, misi ini hanya akan berakhir dengan kematian.

Tak cukup modal nekat Siap mental dan berani mengajukan diri sebagai sukarelawan tentu saja merupakan hal yang baik. Namun, tak cukup modal nekat. Juru Bicara NASA, James Hartsfield merujuk pada syarat pengajuan aplikasi astronot yang diposting agen antariksa itu -- meski belum tentu NASA membiayai proyek ke Mars.

Untuk saat ini, persyaratan menjadi astronot adalah: punya gelar sarjana sains, teknik, atau matematika, punya pengalaman profesional.
Para astronot NASA juga harus menjalani 4 sampai 5 tahun pelatihan sebelum terlibat dalam misi luar angkasa. Pelatihan ini termasuk tes fisik yang intensif.

Para calon astronot juga harus mengikuti pelatihan pertahanan air militer sebelum memulai silabus terbang.

Fakta Mengerikan Seputar Perjalanan Angkasa

Banyak yang membayangkan perjalanan ke luar angkasa merupakan impian indah.

Perjalanan astronot di luar angkasa tak selalu menggembirakan (nasa.gov)

VIVAnews - Anda bercita-cita untuk menjadi seorang astronot? Atau memimpikan ingin berjalan-jalan ke luar angkasa? Jangan melulu bayangkan hal yang indah-indah.

Seperti dikutip dari Discovery, 12 Januari 2010, ada beberapa fakta yang "menarik" seputar kepergian ke luar Bumi itu.

Bangkai Makhluk Hidup

Penelitian dan eksplorasi ruang angkasa telah mengorbankan sejumlah nyawa makhluk hidup, terutama hewan. Jika Anda mengira mengorbankan monyet dan anjing di lab-lab pengujian atas nama ilmu pengetahuan di Bumi, sudah cukup buruk, bayangkan hal ini.

Sejumlah misi luar angkasa awal melibatkan prosedur re-entri ke Bumi. Sayangnya, tidak seluruh pesawat ulang alik berhasil. Diperkirakan, kini banyak bangkai anjing dan simian, jenis monyet yang mirip dengan manusia, yang telah menjadi mumi terus mengorbit Bumi sampai saat ini.

Kebocoran Udara
Alexei Leonov merupakan kosmonot Rusia pertama yang berjalan di ruang angkasa pada tahun 1965 lalu. Sayangnya ia mengalami kebocoran udara dan bahan pakaian mengalami kaku yang tidak diantisipasi sebelumnya.

Kakunya material kostum memaksa ia berupaya kembali ke dalam kapsul dengan susah payah. Ia terpaksa harus menurunkan tekanan di dalam kostum dengan risiko bahan kostum itu menggencetnya ke dalam.

Belum selesai sampai di situ, Voskhod, pesawat yang ia tumpangi meleset dari jalur dan mendarat di pegunungan Ural. Ia terpaksa tetap tinggal di dalam kapsul ruang angkasa tersebut di dalam sampai pertolongan tiba. Di luar, serigala lapar sudah menunggu.

Toilet
Pada 5 Mei 1961, astronot Alan Shepard lebih memilih untuk kencing di celana di pesawat Freedom 7 yang ia tumpangi. Andrew Chaikin, penulis khusus luar angkasa mendeskripsikan, perjalanan ke orbit demikian mengerikan.

Ia menuliskan bahwa toilet di ruang angkasa hanyalah berbentuk pembungkus seperti topi dengan lapisan perekat di pinggirnya. Astronot perlu mengoleskan atau memberikan lapisan anti kuman setelah ia buang hajat.

Nasihat para astronot bagi yang terpaksa memenuhi panggilan alam adalah: telanjang, siapkan waktu sekitar satu jam, dan bawa tisu banyak-banyak. Lakukan secepat mungkin sebelum urin membeku.

Dekompresi Mendadak
Tiga orang astronot Soyuz 11 tewas saat pesawat itu melepaskan tekanan udara saat akan masuk kembali ke atmosfir. Tahun 1965, seorang teknisi dari Johnson Space Center, Houston, AS berhasil hidup dan menceritakan pengalaman serupa.

Saat ia berada di ruang vakum, kecelakaan terjadi dan secara tidak sengaja, kostum luar angkasa yang ia gunakan kehilangan tekanan. Sebelum ia kehilangan kesadaran, yang ia rasakan adalah sensasi lembab yang ia rasakan di lidah terasa seperti mendidih.

Tidak seluruh pakar sepakat seputar gejala dekompresi mendadak. Akan tetapi, beberapa kemungkinannya adalah daging yang membengkak, darah menguap, bola mata meletus, dan pecahnya paru-paru.
Anda masih tertarik untuk pergi ke ruang angkasa dalam waktu dekat? (umi)

Bola Api Hijau Misterius Melintasi Langit AS


"Yang bisa kupikirkan, hanya bayangan soal kiamat 2012 -- setelah kematian massal burung."

Meteorit yang melintas di AS (Daily Mail-Bryan Bergon)

VIVAnews -- Sebuah bola api menakjubkan terlihat melintas di langit timur Amerika Serikat, Selasa 11 Januari 2011 malam. Saat menuruni Bumi, benda itu mengeluarkan kilat cahaya menyilaukan, menerangi malam.

"Aku melihat bola api raksasa jatuh dari langit," kata saksi mata Rodney Anderson seperti dimuat situs www.ksla.com.

Ia mengaku gugup saat itu. "Yang bisa kupikirkan, hanya bayangan soal kiamat 2012 -- setelah kematian massal ikan dan ribuan bangkai burung jatuh dari langit."

Gambaran tentang bola api besar yang melintas juga datang dari pasangan Bruce dan Beverly Faulkne. Mereka mengaku melihatnya saat membelokkan mobil menuju pekarangan mereka di Mississippi.

"Sebelum aku berbelok dengan sempurna, benda itu sudah menghilang," kata Bruce yang mendeskripsikan meteorit yang ia lihat seukuran mobil SUV dan memiliki ekor berwarna oranye.

"Kami pikir jika 10 kaki lebih rendah,  bola api itu bisa membakar gudang pertanian milik kami atau apapun," kata Bruce Faulkne.
Badan Meteorologi setempat mengaku menerima lusinan telepon soal penampakan cahaya misterius di langit.

Sementara, Randle Drane, Direktur Manajemen Darurat di Copiah County, Mississippi, mengatakan, tak hanya melihat kilatan cahaya, warga juga melaporkan mendengar suara ledakan.

"Pasukan pemadam kebakaran dan sukarelawan pergi mencari tahu apa yang terjadi, tapi mereka pulang dengan tangan kosong," kata Drane, seperti dimuat Daily Mail.

Apa benda mistrius itu? Pejabat setempat mengatakan bahwa sinar misterius yang bisa terlihat dari Oklahoma sampai Florida itu diduga kuat adalah meteorit.

Diduga kuat batu luar angkasa itu mungkin mengandung tembaga, itu berdasarkan kesaksian beberapa saksi yang melaporkan melihat semburat hijau terang dari meteorit itu.

Seorang astronom amatir, Bryan Bergon sempat mengabadikan meteorit tersebut. Ia sedang mengamati konstelasi Orion saat tiba-tiba terlihat cahaya terang di langit.

Sementara, Kantor Sheriff  Sebastian County  di Arkansas mengatakan meteorit diduga kuat menghantam wilayah di dekat Poteau Mountain, Oklahoma sekitar pukul 20.30 waktu setempat.

Dr. Alexander Ruzick dari Portland State University mengatakan meteorit adalah hal yang biasa yang bisa terjadi di seluruh dunia.

Pada 8 Oktober 2009, meteorit juga 'mampir' di Bone, Sulawesi Selatan.

Menurut perkiraan Badan Antariksa AS, NASA, asteroid yang meledak di Bone berdiameter 10 meter dengan kekuatannya tiga kali bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima atau 50 ribu ton TNT (bahan pembuat bom). Asteroid Bone adalah salah satu yang terbesar yang pernah diobservasi.

Beruntung, asteroid itu tak menyebabkan kematian dan kehancuran massal. Menurut ahli astronomi, Peter Brown dari University Western Ontario, Canada, kehancuran tak terjadi karena meledak pada ketinggian  15 sampai 20 kilometer di atas permukaan bumi.

Saturday, January 8, 2011

40 Tahun Lagi, Bumi Menghadapi Kelangkaan Pangan

Tahukah Anda bahwa dalam 40 tahun ke depan harga pangan akan melonjak lebih dari dua kali lipat jika laju perubahan iklim dan pemanasan global dunia pada tingkat seperti saat ini! Ini berarti menyebabkan tingkat kekurangan pangan akan melonjak bagi masyarakat miskin di seluruh dunia.

Setelah tahun 2050, para ilmuwan iklim meprediksi temperatur Bumi mungkin akan naik menjadi 6.4 derajat C di atas tingkat suhu abad ke-20. Jika ini terjadi, planet Bumi akan menjadi suram untuk pertanian. Begitu kata peneliti senior Gerald Nelson dari International Food Policy Research Institute (IFPRI).
Para spesialis dari IFPRI yang berbasis di Washington mengatakan, mereka memasukkan 15 skenario populasi dan pertumbuhan pendapatan ke dalam model superkomputer iklim dan menemukan bahwa “perubahan iklim memperburuk masa depan kesejahteraan manusia, khususnya di antara orang termiskin di dunia.”
Penelitian yang diutarakan pada konferensi iklim PBB tahunan itu, menyebutkan harga akan didorong oleh kombinasi faktor: perlambatan produktivitas di beberapa tempat disebabkan oleh pemanasan dan pergeseran pola hujan, dan meningkatnya permintaan karena pengaruh pertumbuhan penduduk dan pendapatannya.
Inilah kekhawatiran baru yang muncul dari persoalan perubahan iklim d Bumi ini!

Source: 40 Tahun Lagi, Bumi Menghadapi Kelangkaan Pangan | Berita Cerita Kota Medan http://www.medantalk.com/40-tahun-lagi-bumi-menghadapi-kelangkaan-pangan/#ixzz1ARNpMrxf
Copyright: www.MedanTalk.com

Misterius, Kematian Massal Burung dan Ikan di Berbagai Belahan Dunia

Misterius, Kematian Massal Burung dan Ikan di Berbagai Belahan Dunia

Perayaan tahun baru melahirkan PR panjang bagi para ilmuwan. Tiba-tiba saja ribuan ekor burung mati mendadak di Amerika Serikat. Burung-burung itu mati selagi terbang dan berserakan di berbagai tempat. Semula hanya di negara bagian Arkansas, kasus itu terjadi.


Namun belakangan kejadian yang sama menimpa negara bagian lain di AS dan bahkan dilaporkan terjadi juga di sebuah kota di Swedia.

Analisa awal memperkirakan burung-burung itu mati karena terkena virus. Namun ada juga dugaan akibat kembang api yang disulut serentak pada malam pergantian tahun 1 Januari 2011.

Dari hasil penelitian dengan cara membedah burung-burung yang mati, para ilmuwan tak menemukan gejala akibat serangan virus. Kesimpulan sementara, burung-burung itu mati akibat trauma fisik akut. Jadi sangat mungkin asumsi suara petasan dan kembang api di malam tahun baru jadi penyebabnya.

Akan tetapi, dugaan itu harus dicabut karena ternyata tidak hanya burung yang mati. Kematian binatang juga melanda ikan.Di Arkansas, ditemukan ratusan ribu bangkai ikan di Sungai Arkansas. Sebarannya sampai 36 kilometer. Hal yang sama terjadi juga di Teluk Chesapeake AS hingga Semenanjung Coromandel Selandia Baru dan Pantai Parana Brasil.

Komisi Memancing dan Berburu Arkansas merasa bingung karena kematian masal ikan itu hanya menimpa satu jenis spesies ikan yaitu ikan drum (dari keluarga Sciaenidae). Sedangkan burung-burung yang mati dari jenis blackbird sayap merah, jalak, dan grackle di Amerika serta burung jackdaw (sejenis gagak) di Swedia.

Mengenai kematian ikan-ikan itu, para ahli menduga akibat cuaca dingin yang ekstrem karena ikan drum biasanya hidup di perairan yang lebih hangat sedangkan cuaca sekarang begitu dingin. Belum ada kesimpulan lanjutan dari kejadian yang janggal ini dan para ilmuwan masih terus melakukan penelitian. Tetapi sangat mungkin kedua jenis binatang itu merupakan korban awal akibat perubahan ekstrim di awal tahun 2011. Kita tunggu saja perkembangan berikutnya.